Robot AI Sally – Sebuah sekolah di Amerika Serikat menunda rencana pemanfaatan robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai media pembelajaran setelah menuai perdebatan di tengah masyarakat. Penundaan tersebut dilakukan karena muncul berbagai kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi siswa, transparansi penggunaan teknologi, hingga peran robot dalam dunia pendidikan.

Sebelumnya, Dewan Salamanca City Central School District telah memberikan persetujuan untuk membeli robot humanoid bernama Sally dari perusahaan teknologi Realbotix. Nilai investasi tersebut mencapai hampir 60.000 dollar AS atau sekitar Rp 1 miliar. Robot ini di persiapkan sebagai perangkat pendukung pembelajaran bagi siswa sekolah menengah atas yang mempelajari robotika, pemrograman, dan teknologi modern.

Namun, setelah rencana tersebut di ketahui publik, berbagai pihak mulai mempertanyakan dampak penggunaan robot AI di lingkungan pendidikan. Akibatnya, implementasi proyek tersebut di putuskan untuk di tunda hingga seluruh aspek keamanan dan regulasi di nilai memenuhi standar yang berlaku.

Robot Sally Di Rancang Sebagai Pendamping Pembelajaran

Kepala Salamanca City Central School District, Mark Beehler, menjelaskan bahwa Sally tidak di rancang untuk menggantikan tenaga pendidik. Sebaliknya, robot tersebut hanya berfungsi sebagai sarana pendukung yang dapat membantu siswa memahami materi teknis secara lebih interaktif.

Melalui sistem AI yang di milikinya, Sally mampu memberikan penjelasan mengenai berbagai topik teknologi. Misalnya, siswa dapat bertanya mengenai papan mikrokontroler Arduino, cara melakukan pemrograman dasar, hingga memahami fungsi berbagai komponen elektronik.

Selain itu, robot tersebut juga di program untuk membantu siswa mempelajari proses pemeliharaan robot, pembaruan perangkat lunak, serta langkah-langkah penyelesaian masalah apabila terjadi gangguan pada sistem.

Pihak sekolah berharap teknologi tersebut dapat memperkaya pengalaman belajar sekaligus memperkenalkan perkembangan kecerdasan buatan kepada para siswa sejak dini.

Kekhawatiran Terhadap Keamanan Data Siswa

Meskipun memiliki tujuan edukatif, penggunaan Sally memunculkan kekhawatiran serius mengenai perlindungan data pribadi peserta didik. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana robot tersebut mengelola informasi yang di peroleh selama berinteraksi dengan siswa.

Isu privasi menjadi perhatian utama karena teknologi AI umumnya membutuhkan proses pengolahan data agar dapat memberikan respons yang lebih akurat. Oleh sebab itu, masyarakat meminta adanya jaminan bahwa informasi siswa tidak akan di simpan, di sebarluaskan, maupun di manfaatkan untuk kepentingan lain.

Selain persoalan privasi, transparansi mengenai cara kerja sistem AI juga menjadi sorotan. Otoritas pendidikan meminta pihak sekolah menjelaskan secara rinci mekanisme pengoperasian robot sebelum proyek benar-benar di terapkan di ruang kelas.

Serikat Guru Soroti Latar Belakang Pengembang Robot

Kontroversi semakin berkembang setelah serikat guru New York State United Teachers (NYSUT) menyoroti hubungan perusahaan pengembang Sally, Realbotix, dengan Intima. Perusahaan tersebut di ketahui berada dalam kelompok bisnis yang sama dengan produsen robot dan boneka dewasa berbasis AI.

Presiden NYSUT, Melinda Person, menilai latar belakang tersebut tidak sesuai dengan lingkungan pendidikan. Menurutnya, sekolah seharusnya menghadirkan teknologi yang benar-benar memiliki citra edukatif tanpa keterkaitan dengan industri lain yang di anggap tidak relevan bagi dunia pendidikan.

Pernyataan tersebut memicu diskusi lebih luas mengenai pentingnya mempertimbangkan reputasi perusahaan penyedia teknologi sebelum produknya di gunakan di sekolah.

Otoritas Pendidikan Meminta Penjelasan Lebih Mendalam

Komisioner Pendidikan Negara Bagian New York, Betty Rosa, turut memberikan perhatian terhadap proyek tersebut. Dalam surat yang di kirimkan kepada pihak distrik sekolah, ia meminta penjelasan lebih rinci mengenai fungsi Sally di lingkungan pendidikan.

Salah satu hal yang di pertanyakan adalah penyebutan Sally sebagai “platform tutor”. Sebab, sebelumnya pihak sekolah menyampaikan bahwa robot tersebut tidak akan menjalankan tugas sebagai pengajar utama.

Selain itu, Rosa juga meminta penjelasan mengenai sistem keamanan data, mekanisme perlindungan privasi siswa, serta prosedur operasional yang akan di terapkan apabila robot di gunakan di sekolah.

Permintaan tersebut menjadi salah satu alasan utama di tundanya implementasi proyek hingga seluruh dokumen dan kebijakan dinyatakan jelas.

Robot humanoid AI Sally yang dirancang sebagai alat bantu pembelajaran di sekolah Amerika Serikat.

Robot AI Sally dari Realbotix batal membantu siswa di New York setelah menuari kontroversi

Sekolah Tegaskan Robot Tidak Akan Menggantikan Guru

Menanggapi berbagai kritik, pihak sekolah menegaskan bahwa penggunaan AI bukan bertujuan menggantikan tenaga pendidik. Mark Beehler menyatakan proses belajar mengajar tetap membutuhkan interaksi langsung antara guru dan siswa yang tidak dapat di gantikan oleh mesin.

Menurutnya, Sally hanya merupakan bagian dari program pengenalan teknologi yang juga mencakup pemanfaatan asisten virtual berbasis AI serta layanan belajar jarak jauh sebagai pelengkap proses pendidikan.

Ia menambahkan bahwa keberadaan robot hanya di maksudkan untuk memperluas akses pembelajaran teknologi, bukan mengambil alih peran guru di dalam kelas.

Sistem Robot Di Klaim Mengutamakan Keamanan

Sebagai bentuk respons terhadap kritik masyarakat, pihak sekolah menjelaskan sejumlah langkah pengamanan yang telah di siapkan.

Robot Sally di klaim tidak memiliki kemampuan merekam audio maupun video selama berinteraksi dengan siswa. Selain itu, perangkat tersebut juga tidak mengumpulkan data pribadi ataupun mengirimkan informasi ke server milik Realbotix.

Seluruh data operasional di simpan secara lokal sehingga tidak bergantung pada penyimpanan berbasis cloud. Robot juga di program agar tidak membahas topik sensitif serta tidak memiliki akses langsung ke internet publik maupun layanan AI generatif tanpa pengawasan operator.

Langkah-langkah tersebut di harapkan mampu memberikan jaminan keamanan sebelum proyek kembali di pertimbangkan untuk di jalankan.

Realbotix Bantah Tuduhan Mengenai Produk Mereka

Realbotix turut memberikan klarifikasi terkait kritik yang berkembang. Perusahaan menegaskan bahwa Sally merupakan produk baru yang sejak awal di rancang khusus untuk mendukung kebutuhan pendidikan.

Perusahaan juga membantah anggapan bahwa robot tersebut merupakan hasil modifikasi dari robot dewasa. Menurut Realbotix, meskipun berada di bawah kelompok perusahaan yang sama dengan Intima, kedua perusahaan memiliki struktur manajemen, karyawan, fasilitas produksi, serta strategi bisnis yang berbeda.

Karena itu, mereka menilai tidak tepat jika produk pendidikan di samakan dengan lini bisnis lain yang tidak memiliki keterkaitan langsung.

Penolakan Masyarakat Masih Berlanjut

Walaupun berbagai penjelasan telah di sampaikan, sebagian warga Salamanca masih menunjukkan penolakan terhadap penggunaan robot AI di sekolah.

Salah seorang lulusan Salamanca High School tahun 2024, Joplin Ficek, berpendapat bahwa sekolah sebaiknya memprioritaskan penambahan tenaga pendidik di bandingkan menghadirkan robot sebagai pendamping belajar. Menurutnya, perkembangan emosional dan sosial siswa jauh lebih efektif apabila di bangun melalui interaksi langsung dengan guru.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan di dunia pendidikan masih memerlukan pembahasan yang matang. Selain mempertimbangkan manfaat teknologi, lembaga pendidikan juga harus memastikan aspek etika, keamanan data, serta kepercayaan masyarakat tetap menjadi prioritas utama sebelum inovasi serupa di terapkan secara luas.