Salip Buruh Tani Jakarta Timur menjadi gambaran nyata perjuangan masyarakat kecil yang tetap bertahan menjalani profesinya meski usia terus bertambah. Di kawasan Urban Farming Bali Lestari, Ujung Menteng, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, pria berusia 70 tahun itu masih menghabiskan hari-harinya di area persawahan. Selama puluhan tahun, ia menggarap lahan sebagai buruh tani dan memilih menetap di sebuah gubuk sederhana yang berdiri di pinggir sawah.
Bagi Salip, sawah bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Lahan pertanian tersebut telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sejak muda hingga memasuki usia senja. Meski kawasan sekitarnya berkembang menjadi wilayah perkotaan, ia tetap mempertahankan pekerjaan yang telah di kenalnya sejak remaja.
Saat di temui di kawasan Urban Farming Bali Lestari pada Kamis (7/8/2026), Salip mengaku telah bekerja di lokasi itu selama lebih dari tiga dekade. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya bekerja sebagai buruh tani, bukan pemilik lahan maupun bangunan yang di tempatinya.
Menurutnya, pekerjaan bertani sudah melekat dalam kehidupannya sejak masih lajang. Hingga kini, ia tidak pernah mencoba pekerjaan lain karena merasa bertani merupakan satu-satunya keterampilan yang benar-benar di kuasainya.
Merantau dari Indramayu Sejak Remaja
Perjalanan Salip sebagai petani bermula ketika ia meninggalkan kampung halamannya di Indramayu, Jawa Barat. Saat berusia sekitar 15 tahun, ia memutuskan merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Di tempat perantauan, Salip mulai mengenal dunia pertanian dari dasar. Ia mempelajari cara mengolah tanah, menggunakan cangkul, hingga memahami berbagai tahapan dalam mengerjakan sawah. Semua kemampuan tersebut ia peroleh secara bertahap melalui bimbingan orang-orang yang lebih berpengalaman.
Kesabaran dan ketekunannya membuat Salip mampu bertahan di bidang pertanian selama puluhan tahun. Meskipun perkembangan kota terus mengurangi luas lahan pertanian, ia tetap memilih menjalani profesi yang telah membesarkan dirinya.
Baginya, menjadi petani bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh uang. Aktivitas mengolah sawah telah menjadi bagian dari identitas dan kesehariannya yang sulit di pisahkan.

Di sudut kawasan Urban Farming Bali Lestari, Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur, Salip (70) menghabiskan hari-harinya sebagai buruh tani.
Mengandalkan Upah Harian untuk Bertahan Hidup
Selama bekerja sebagai buruh tani, Salip hanya mengandalkan upah harian. Ia mengenang bahwa pada masa lalu dirinya menerima bayaran sekitar Rp5.000 untuk satu hari kerja. Kini upah tersebut meningkat menjadi sekitar Rp100.000 per hari.
Namun, menurutnya, kenaikan nominal tersebut tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan hidup. Pendapatan yang di terima hanya cukup memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sehingga hampir tidak ada sisa untuk keperluan lain.
Keadaan semakin sulit karena pekerjaan di sawah tidak tersedia setiap hari. Saat tidak ada pekerjaan, Salip tidak memperoleh penghasilan sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, ia terpaksa mencari cara agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup, termasuk berutang untuk membeli makanan.
Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, Salip tetap menjalani kehidupannya dengan sederhana. Ia tidak memiliki usaha sampingan maupun pekerjaan lain yang dapat menambah penghasilan.
Tetap Kuat Menggarap Sawah di Usia 70 Tahun
Usia yang telah mencapai 70 tahun tidak menghalangi Salip untuk terus bekerja di sawah. Ia masih sanggup mencangkul, membersihkan lahan, dan mengerjakan berbagai aktivitas pertanian yang membutuhkan tenaga fisik.
Kemampuannya tersebut bahkan sering membuat orang lain merasa kagum. Banyak warga menilai Salip masih memiliki tenaga yang luar biasa untuk seseorang yang telah memasuki usia lanjut. Ia tetap aktif bekerja, termasuk ketika menjalankan ibadah puasa.
Semangat itu lahir karena ia telah terbiasa menjalani pekerjaan berat sejak muda. Aktivitas bertani selama puluhan tahun membentuk fisik dan mentalnya sehingga ia tetap mampu bekerja meski usia terus bertambah.
Bagi Salip, bekerja juga menjadi cara untuk mempertahankan kehidupan. Selama tubuhnya masih kuat, ia memilih tetap turun ke sawah daripada hanya berdiam diri.
Memilih Tinggal di Gubuk Sederhana
Setelah sang istri meninggal dunia, Salip memutuskan tetap tinggal di gubuk sederhana yang berada di dekat area persawahan. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan.
Ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk menyewa rumah atau tempat tinggal lain. Penghasilan sebagai buruh tani tidak cukup menutupi biaya kontrakan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena itu, gubuk sederhana yang berdiri di tepi sawah menjadi tempat berlindung sekaligus saksi perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun. Meski kondisinya jauh dari kata mewah, tempat tersebut memberikan ruang bagi Salip untuk tetap bertahan.
Di tengah perubahan wajah Jakarta yang semakin modern, kisah Salip memperlihatkan bahwa masih ada pekerja sektor pertanian yang mempertahankan profesinya dengan penuh keteguhan. Selama lebih dari 30 tahun, ia tetap mengabdikan hidupnya di sawah, mengandalkan tenaga sendiri untuk mencari nafkah, serta menjalani kehidupan dengan kesederhanaan.
Bagi Salip, sawah bukan hanya sumber penghasilan. Tempat itu menyimpan perjalanan panjang sejak masa remaja, menjadi ruang belajar, tempat bekerja, sekaligus rumah yang menemani kehidupannya hingga usia senja.