Iran – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah wilayah Iran. Aksi militer tersebut memicu respons keras dari pemerintah Iran, yang menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh Teheran dan tidak akan di atur berdasarkan tekanan dari pihak luar.
Pernyataan tersebut di sampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, yang menilai langkah militer Amerika Serikat sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya. Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang selama ini di nilai terancam oleh aktivitas militer Iran.
Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap beroperasi sesuai kepentingan nasional Iran. Menurutnya, jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan di buka ataupun di atur berdasarkan tekanan maupun ancaman dari Amerika Serikat.
Pernyataan itu di sampaikan pada Kamis, 9 Juli 2026, setelah muncul laporan mengenai serangan udara terbaru yang dilakukan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah lokasi di kawasan selatan dan tenggara Iran pada malam sebelumnya.
Melalui akun resminya di media sosial X, Qalibaf menyampaikan bahwa kebijakan intimidasi yang dilakukan Washington tidak lagi dapat di terima oleh Iran. Ia juga menilai Amerika Serikat belum memahami bahwa setiap tindakan militer akan memunculkan konsekuensi yang harus di pertanggungjawabkan.
Teheran Peringatkan Akan Memberikan Balasan
Selain menegaskan posisi Iran terhadap Selat Hormuz, Qalibaf juga mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila wilayahnya kembali menjadi sasaran serangan.
Menurutnya, setiap aksi militer yang di tujukan kepada Iran akan memperoleh respons yang setimpal. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran siap mengambil langkah balasan apabila eskalasi konflik terus meningkat.
Sementara itu, sejumlah media lokal Iran melaporkan bahwa serangan udara terbaru Amerika Serikat menyasar beberapa fasilitas strategis di wilayah selatan dan tenggara negara tersebut. Kawasan tersebut di ketahui memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari sistem pertahanan pesisir Iran yang menghadap langsung ke Teluk Oman serta jalur perdagangan internasional.
Dengan letaknya yang strategis, wilayah tersebut memiliki peran penting dalam pengawasan aktivitas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz.

Warga Iran duduk di tepi Pantai Suru, Bandar Abbas, pesisir Selat Hormuz, 1 Juni 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk.
Amerika Serikat Sebut Operasi Demi Menjaga Jalur Maritim
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya memang telah melaksanakan operasi militer tambahan terhadap sejumlah target di Iran.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menjelaskan bahwa serangan tersebut bertujuan mengurangi kemampuan militer Iran. Yang di nilai berpotensi mengganggu keamanan pelayaran internasional.
Menurut pihak militer AS, operasi itu di fokuskan untuk melemahkan kapasitas pertahanan Iran. Sehingga ancaman terhadap kebebasan navigasi di kawasan Selat Hormuz dapat di minimalkan.
Washington juga menegaskan bahwa jalur perdagangan internasional harus tetap terbuka dan aman bagi seluruh negara yang bergantung pada distribusi energi melalui kawasan tersebut.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Strategis Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan minyak mentah global. Sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk menuju Asia, Eropa, dan berbagai wilayah lain melewati perairan sempit tersebut.
Karena memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, setiap ketegangan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz selalu menjadi perhatian masyarakat internasional. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia sekaligus memicu kenaikan harga minyak di pasar global.
Hingga saat ini, kondisi keamanan di kawasan Selat Hormuz masih di laporkan berada dalam situasi yang penuh kewaspadaan. Meningkatnya aktivitas militer antara Amerika Serikat dan Iran membuat komunitas internasional terus memantau perkembangan konflik tersebut.
Apabila eskalasi terus berlanjut tanpa adanya upaya diplomasi, bukan tidak mungkin dampaknya akan meluas ke sektor ekonomi, perdagangan. Hingga keamanan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.