Astra Otoparts – Di tengah kondisi pasar otomotif nasional yang masih melambat dalam beberapa tahun terakhir, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) menunjukkan ketahanan kinerja yang relatif solid. Perusahaan berhasil mempertahankan pertumbuhan berkat strategi di versifikasi bisnis yang mencakup sektor Original Equipment Manufacturer (OEM) dan aftermarket.

Berdasarkan laporan riset CLSA, Astra Otoparts mencatat pendapatan sebesar Rp 19,9 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sekitar 4 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, laba bersih perusahaan meningkat 8 persen menjadi Rp 2,2 triliun, yang sekaligus menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Capaian tersebut di nilai cukup impresif mengingat industri otomotif domestik masih berada dalam fase pemulihan. Penjualan mobil belum sepenuhnya stabil, sementara pasar sepeda motor juga masih menghadapi tekanan permintaan.

Struktur Bisnis Seimbang Jadi Penopang Utama

Menurut analisis CLSA, ketahanan kinerja Astra Otoparts tidak lepas dari struktur bisnis yang seimbang. Sekitar 51 persen pendapatan perusahaan berasal dari segmen manufaktur komponen, sedangkan 49 persen lainnya di topang oleh bisnis perdagangan atau aftermarket.

Dari sisi pelanggan, kontribusi penjualan juga cukup terdiversifikasi. Sekitar 61 persen berasal dari grup Astra, sementara sisanya di sumbang oleh produsen kendaraan non-Astra. Struktur ini membantu perusahaan menjaga stabilitas pendapatan meskipun kondisi pasar sedang berfluktuasi.

Memasuki tahun 2026, tren pertumbuhan tersebut masih berlanjut. Pada kuartal pertama, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 7 persen, di sertai pertumbuhan laba bersih hingga 11 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Permintaan Kendaraan Niaga dan Elektrifikasi Dorong Pertumbuhan

CLSA mencatat bahwa perbaikan pasar otomotif nasional turut menjadi pendorong utama kinerja perusahaan. Permintaan kendaraan niaga meningkat seiring pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur pemerintah, yang berdampak langsung pada kebutuhan komponen otomotif.

Selain itu, peluncuran model kendaraan baru serta meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik (EV) dan hybrid juga memberikan dorongan tambahan. Astra Otoparts bahkan mulai memperluas portofolio dengan memasok komponen untuk beberapa merek mobil listrik asal Tiongkok, seperti BYD, Jaecoo, dan VinFast.

Kebijakan pemerintah yang menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 60 persen pada periode 2027–2029 di perkirakan akan membuka peluang lebih besar bagi industri komponen lokal untuk berkembang lebih agresif di pasar domestik.

Astra Otoparts lini produksi komponen otomotif dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) akan membagikan dividen.

Ekspansi ke Ekosistem Kendaraan Listrik

Meski kontribusi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) terhadap bisnis perusahaan masih tergolong kecil, Astra Otoparts terus memperkuat posisinya di sektor ini. Saat ini, volume terbesar justru masih berasal dari kendaraan hybrid. Termasuk model seperti Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, Veloz Hybrid, serta Suzuki Fronx Hybrid.

Selain sebagai pemasok komponen, perusahaan juga aktif membangun ekosistem kendaraan listrik melalui jaringan Astra Otopower. Hingga Maret 2026, perusahaan telah mengoperasikan 65 stasiun pengisian daya ultra-fast charging di berbagai wilayah Indonesia.

Infrastruktur tersebut di lengkapi dengan pengembangan wall charger Altro serta kerja sama dengan PLN dalam pemasangan charger pada jaringan tiang listrik. Yang memperluas akses pengguna kendaraan listrik di Tanah Air.

Tantangan Biaya Produksi dan Strategi Penyesuaian Harga

Di balik pertumbuhan yang positif, Astra Otoparts masih menghadapi tantangan dari sisi biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku seperti aluminium, material berbasis minyak (plastik), serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan tekanan terhadap struktur biaya perusahaan. Faktor ini di perkirakan memengaruhi sekitar 20–30 persen total biaya produksi.

Untuk mengatasinya, perusahaan secara bertahap melakukan penyesuaian harga kepada pelanggan OEM. Namun, proses penyesuaian tersebut tidak dapat dilakukan secara cepat karena umumnya membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk berlaku efektif.

CLSA mencatat bahwa ruang kenaikan harga di segmen OEM relatif terbatas karena perusahaan harus menjaga daya saing di tengah kompetisi industri. Sebaliknya, segmen aftermarket memberikan fleksibilitas lebih besar dalam penyesuaian harga.

Meski demikian, Astra Otoparts tetap mampu mempertahankan pangsa pasar produk unggulannya, termasuk aki GS Astra yang menguasai hampir 60 persen pasar domestik. Memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama di industri komponen otomotif Indonesia.