Budaya Osing – Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, banyak daerah menghadapi tantangan dalam mempertahankan tradisi dan identitas budaya. Namun, Desa Kemiren di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya mampu menjaga warisan leluhur, tetapi juga dapat menjadi fondasi pembangunan ekonomi masyarakat.

Desa yang di kenal sebagai pusat kehidupan Suku Osing ini berhasil mengembangkan konsep wisata berbasis budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung. Melalui pengelolaan yang terorganisasi dan partisipasi warga, budaya lokal tidak sekadar di pertontonkan kepada wisatawan, melainkan menjadi sumber penghasilan yang memberikan manfaat nyata bagi penduduk setempat.

Pelestarian Budaya Menjadi Awal Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan Desa Wisata Kemiren berawal dari keinginan masyarakat untuk menjaga kelestarian budaya Suku Osing agar tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Warga menyadari bahwa tradisi, kesenian, hingga adat istiadat yang di wariskan secara turun-temurun merupakan aset berharga yang layak dipertahankan.

Sebagian besar masyarakat Kemiren masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, khususnya sebagai petani padi. Namun, kondisi pertanian yang di pengaruhi cuaca, perubahan musim, serta fluktuasi hasil panen membuat masyarakat mulai mencari sumber pendapatan tambahan yang lebih stabil.

Pariwisata berbasis budaya kemudian menjadi alternatif yang di nilai mampu memperkuat perekonomian desa tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang telah di wariskan oleh para leluhur.

Wisata Budaya Melibatkan Langsung Masyarakat

Sejak di kelola secara lebih terstruktur oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pada tahun 2022, Desa Wisata Kemiren menawarkan berbagai aktivitas yang memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan.

Pengunjung dapat mengikuti kegiatan membatik dengan motif khas Osing, mempelajari proses pengolahan kopi lokal, menikmati pertunjukan Tari Gandrung, mencicipi berbagai hidangan tradisional, hingga merasakan kehidupan masyarakat melalui program menginap di rumah warga atau homestay.

Model pengelolaan homestay di desa ini juga memiliki konsep pemberdayaan masyarakat. Rumah-rumah yang di gunakan sebagai tempat menginap sepenuhnya di miliki warga, sementara pengelola desa wisata berperan membantu promosi serta pemasaran kepada wisatawan. Dengan sistem tersebut, manfaat ekonomi dapat di rasakan secara langsung oleh pemilik rumah tanpa harus kehilangan hak pengelolaannya.

Jumlah Wisatawan Terus Mengalami Peningkatan

Keunikan budaya Suku Osing menjadi daya tarik yang mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara. Sepanjang tahun 2025, Desa Wisata Kemiren menerima ribuan kunjungan wisatawan domestik serta lebih dari seratus wisatawan asing.

Memasuki pertengahan tahun 2026, jumlah reservasi yang telah tercatat menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Peningkatan kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa wisata budaya memiliki potensi besar sebagai sektor ekonomi yang mampu berkembang secara berkelanjutan.

Bertambahnya jumlah wisatawan juga berdampak langsung terhadap meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari jasa penginapan, kuliner, transportasi lokal, hingga penjualan produk kerajinan dan hasil olahan khas daerah.

Suasana Desa Wisata Kemiren Banyuwangi dengan budaya Suku Osing dan aktivitas wisata tradisional.

Warga Desa Kemiren memainkan alat tumbuk padi, Jumat (26/6/2026).

Pendapatan Wisata Diprioritaskan untuk Kesejahteraan Warga

Keberhasilan Desa Wisata Kemiren tidak hanya di ukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari sistem distribusi manfaat ekonomi yang di terapkan.

Dalam satu tahun, desa wisata ini mampu menghasilkan laba kotor mencapai ratusan juta rupiah. Sebagian besar pendapatan tersebut di salurkan kepada masyarakat yang terlibat langsung. Seperti pemilik homestay, pemandu wisata, pelatih kegiatan edukasi budaya, hingga pelaku usaha lokal.

Pengelola desa lebih mengutamakan pemerataan manfaat di bandingkan mengejar keuntungan organisasi. Pendekatan tersebut membuat masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap program wisata. Sehingga terus menjaga kualitas pelayanan sekaligus melestarikan budaya yang menjadi daya tarik utama desa.

Program Desa Sejahtera Astra Mendukung Pengembangan Kemiren

Pengembangan Desa Kemiren semakin kuat setelah memperoleh pendampingan melalui program Desa Sejahtera Astra sejak tahun 2024.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan sektor pariwisata, tetapi juga memperhatikan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan, serta kewirausahaan.

Pada sektor kesehatan, masyarakat aktif menjalankan kegiatan Posyandu bersama kader PKK. Sementara itu, di bidang pendidikan di kembangkan berbagai kegiatan belajar serta ruang bermain yang mendukung tumbuh kembang anak.

Dalam aspek lingkungan, masyarakat mulai menerapkan sistem pemilahan sampah nonorganik. Serta mengolah sampah organik menjadi kompos sebagai bagian dari upaya menciptakan desa yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Warisan Budaya Osing Tetap Terjaga

Desa Kemiren di kenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Suku Osing yang masih mempertahankan berbagai tradisi hingga saat ini. Beragam warisan budaya tetap di lestarikan, mulai dari ritual Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, musik tradisional, kuliner khas. Hingga bentuk arsitektur rumah adat Osing yang masih di pertahankan oleh masyarakat.

Keberadaan desa ini bahkan sering di sebut sebagai museum hidup karena kehidupan masyarakat sehari-hari masih mencerminkan budaya Osing secara autentik. Wisatawan tidak hanya melihat pertunjukan budaya. Tetapi juga dapat merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih menjalankan tradisi secara alami.

Prestasi Nasional dan Internasional

Keberhasilan Desa Wisata Kemiren dalam mengembangkan wisata budaya berbasis masyarakat telah memperoleh berbagai penghargaan bergengsi sejak tahun 2019.

Apresiasi tersebut berasal dari tingkat nasional maupun internasional, di antaranya penghargaan Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), serta ASEAN Tourism Award 2025.

Selain itu, pembinaan yang dilakukan melalui program Desa Sejahtera Astra telah menjangkau sekitar 300 warga. Dan membuka peluang ekonomi melalui puluhan homestay dengan puluhan kamar. Serta puluhan pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kerajinan tangan, hingga pengolahan kopi.

Keberhasilan Desa Kemiren menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, budaya lokal tidak hanya tetap lestari. Tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh warga desa.