Perancis – Gelombang panas ekstrem yang melanda Perancis dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya di rasakan oleh warga setempat, tetapi juga oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang menetap di negara tersebut. Suhu udara yang mencapai lebih dari 35 derajat Celsius memaksa masyarakat mengubah pola aktivitas sehari-hari demi menghindari risiko gangguan kesehatan akibat cuaca yang sangat panas.
Salah seorang WNI yang merasakan langsung kondisi tersebut adalah Arlita Ulya. Ia kini tinggal di Desa Albe, sebuah kawasan di wilayah Alsace, timur laut Perancis, sejak awal Maret 2026. Menurutnya, gelombang panas kali ini jauh lebih ekstrem di bandingkan musim panas yang pernah ia alami saat berkunjung ke Perancis pada Agustus 2025.
Selama sekitar sepuluh hari terakhir, suhu di wilayah tempat tinggalnya berkisar antara 35 hingga 36 derajat Celsius. Meski angka tersebut tidak jauh berbeda dengan suhu di beberapa kota di Indonesia ketika musim kemarau, sensasi panas yang dirasakan justru jauh lebih menyengat.
Panas Kering Membuat Kondisi Tubuh Lebih Cepat Lelah
Arlita menjelaskan bahwa karakteristik cuaca di Perancis berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia udara cenderung lembap, maka panas di Perancis bersifat kering sehingga memberikan dampak yang lebih berat bagi tubuh.
Ia mengaku kulit menjadi lebih mudah kering dan gatal ketika terlalu lama berada di luar ruangan. Selain itu, paparan sinar matahari dalam waktu singkat juga dapat memicu sakit kepala hingga migrain.
Pengalaman tersebut ia rasakan saat mengikuti acara makan bersama keluarga di luar ruangan. Meski hanya berada di bawah terik matahari kurang dari setengah jam, ia mengalami migrain yang bertahan hingga seharian penuh.
Padahal, Desa Albe di kenal sebagai kawasan yang di kelilingi perbukitan, Pegunungan Vosges, dan hamparan kebun anggur. Namun, kondisi geografis tersebut tidak mampu mengurangi dampak panas ekstrem yang sedang melanda wilayah tersebut.
Menurutnya, rendahnya tingkat kelembapan udara membuat suhu panas terasa lebih membakar di bandingkan suhu dengan angka yang sama di Indonesia.

Warga Perancis menyegarkan diri dengan semprotan air di Lyon, Perancis selatan, ketika suhu panas menyengat pada 22 Juli 2026.
Aktivitas Masyarakat Di sesuaikan Demi Menghindari Risiko
Gelombang panas juga memengaruhi berbagai sektor pekerjaan di Perancis. Banyak perusahaan dan pelaku usaha mengubah jadwal kerja agar pekerja tidak beraktivitas ketika suhu berada pada titik tertinggi.
Keluarga tunangan Arlita yang bekerja di sektor perkebunan anggur juga menerapkan pola kerja baru. Para pekerja memulai aktivitas sejak pukul 06.00 atau 07.00 pagi agar pekerjaan selesai sebelum matahari berada di puncaknya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan lainnya yang dapat terjadi ketika bekerja di luar ruangan.
Pemerintah Perancis pun mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas luar ruangan mulai pukul 10.00 hingga 19.00 waktu setempat. Sejumlah kegiatan masyarakat bahkan di tunda sementara sebagai bentuk antisipasi terhadap meningkatnya jumlah korban akibat cuaca ekstrem.
Selain suhu tinggi, perubahan cuaca juga sempat menghadirkan hujan di sertai petir. Meski berlangsung singkat, fenomena tersebut menyebabkan gangguan pada jaringan telekomunikasi di beberapa wilayah sehingga layanan telepon dan internet sempat mengalami kendala.
Korban Jiwa Meningkat, Pemerintah Tetap Siaga
Gelombang panas yang terjadi sejak 20 Juni 2026 di laporkan telah menyebabkan sekitar seribu korban meninggal dunia di Perancis. Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang rentan mengalami komplikasi akibat suhu ekstrem.
Lonjakan pasien membuat rumah sakit dan layanan kesehatan bekerja di bawah tekanan tinggi selama beberapa hari terakhir. Pemerintah pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko yang masih dapat muncul meskipun suhu mulai menurun.
Badan meteorologi Perancis, Météo-France, telah menurunkan status kewaspadaan di Paris dan wilayah Île-de-France menjadi siaga kuning. Meski demikian, sejumlah daerah di bagian selatan, seperti Alpes-de-Haute-Provence, Alpes-Maritimes, Var, dan Korsika, masih berada dalam status siaga oranye karena suhu udara tetap tinggi.
Hujan yang mulai turun setelah gelombang panas berkepanjangan memang memberikan harapan bahwa kondisi cuaca mulai membaik. Namun, pemerintah menegaskan bahwa dampak kesehatan akibat suhu ekstrem masih dapat di rasakan hingga beberapa hari setelah cuaca kembali normal.
Menteri Kesehatan Perancis, Stephanie Rist, mengingatkan bahwa konsekuensi dari gelombang panas tidak langsung berakhir ketika suhu menurun. Karena itu, masyarakat tetap di minta menjaga kesehatan, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menghindari aktivitas berat di luar ruangan.
Di sisi lain, badai yang membawa udara lebih sejuk pada akhir pekan juga memunculkan persoalan baru berupa pemadaman listrik di berbagai wilayah. Puluhan ribu rumah tangga di laporkan masih mengalami gangguan pasokan listrik, sementara sebagian kawasan juga menghadapi kendala akses internet akibat cuaca buruk.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun intensitas gelombang panas mulai berkurang, Perancis masih harus menghadapi berbagai dampak lanjutan. Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan untuk memastikan keselamatan masyarakat hingga situasi benar-benar kembali normal.