Sungai Kapuas – mengalami penurunan muka air yang cukup tajam setelah musim kemarau berlangsung dalam waktu lama di Kalimantan Barat. Penyusutan tersebut mengubah pemandangan di sejumlah bagian sungai. Area yang biasanya tertutup air kini memperlihatkan dasar berpasir hingga menyerupai kawasan pantai.

Fenomena itu antara lain terlihat di Kabupaten Sekadau. Hamparan pasir yang muncul di tengah kondisi sungai yang surut bahkan mengundang masyarakat untuk datang. Sebagian warga memanfaatkan area tersebut sebagai lokasi bersantai dan menikmati pemandangan.

Namun, perubahan wajah sungai terpanjang di Indonesia tersebut bukan sekadar menghadirkan fenomena alam yang menarik perhatian. Rendahnya muka air mulai berdampak pada transportasi sungai dan distribusi komoditas. Kondisi ini juga memicu persoalan air baku di Pontianak karena intrusi air laut semakin terasa.

Berikut sejumlah fakta mengenai kondisi Sungai Kapuas selama kemarau panjang.

Debit Air Sungai Kapuas Turun Signifikan

Kemarau berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi Sungai Kapuas. Curah hujan yang minim mengurangi suplai air menuju sungai sehingga permukaannya terus menurun.

Dampaknya terlihat jelas di beberapa wilayah Kabupaten Sekadau. Air yang biasanya menutupi sebagian besar badan sungai menyusut dan menyisakan jalur aliran yang lebih sempit. Pada saat yang sama, bagian dasar yang sebelumnya terendam mulai terlihat.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena Sungai Kapuas memiliki peranan penting bagi Kalimantan Barat. Masyarakat telah lama memanfaatkan sungai ini sebagai jalur mobilitas sekaligus pendukung kegiatan ekonomi.

Karena itu, perubahan debit air dalam skala besar tidak hanya mengubah bentang alam. Penurunan muka air juga dapat memengaruhi berbagai kegiatan masyarakat yang bergantung pada sungai.

Dasar Sungai Menjadi Tempat Rekreasi Sementara

Salah satu pemandangan yang paling menarik perhatian muncul di Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir. Air yang menyusut memperlihatkan area berpasir cukup luas sehingga kawasan tersebut sekilas menyerupai pantai.

Fenomena itu kemudian menarik kedatangan warga. Masyarakat mengunjungi lokasi bersama keluarga untuk bersantai, berfoto, membawa tikar, menikmati makanan, dan melihat suasana sore.

Ridwan, salah seorang pengunjung, menggambarkan suasana di lokasi seperti berada di kawasan pantai Singkawang. Banyak pengunjung memanfaatkan hamparan pasir tersebut untuk berkumpul dan mengabadikan momen.

Perubahan kondisi Sungai Kapuas juga mendapatkan perhatian di media sosial. Penampakan dasar sungai yang luas menjadi pemandangan tidak biasa karena area tersebut pada kondisi normal berada di bawah air.

Meski demikian, hamparan pasir itu bersifat sementara. Ketika musim hujan meningkatkan kembali debit Sungai Kapuas, air berpotensi menutupi area yang saat ini digunakan masyarakat untuk berekreasi.

Sungai Dangkal Hambat Perjalanan Tongkang

Penurunan muka air turut membawa persoalan bagi transportasi sungai. Kedalaman alur yang berkurang membuat kapal berukuran besar dan tongkang semakin sulit bergerak melalui sejumlah titik.

Bahkan, terdapat laporan mengenai tongkang yang kandas dalam waktu cukup lama. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu rantai distribusi.

Pengangkutan batu bara melalui jalur Sungai Kapuas termasuk aktivitas yang menghadapi hambatan ketika muka air berada pada level rendah. Kapal membutuhkan kedalaman tertentu agar dapat beroperasi dengan aman, terutama saat membawa muatan dalam jumlah besar.

Jika kondisi dangkal berlangsung lama, pengiriman barang melalui sungai berpotensi membutuhkan waktu lebih panjang. Situasi tersebut juga dapat menambah tantangan logistik bagi pelaku usaha yang mengandalkan transportasi perairan.

Sungai Kapuas mengering

Debit Sungai Kapuas di wilayah Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar), menyusut drastis akibat kemarau panjang, Kamis (3/9/2026).

Intrusi Air Laut Mengancam Sumber Air Baku Pontianak

Dampak kemarau juga terasa hingga Pontianak. Berkurangnya debit Sungai Kapuas membuka persoalan lain berupa intrusi atau masuknya air laut ke aliran sungai.

Kondisi tersebut meningkatkan kadar garam pada air Sungai Kapuas. Pada akhir Agustus 2026, kadar garam dilaporkan telah melampaui 5.000 miligram per liter.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan bahwa angka tersebut jauh melampaui batas yang diperlukan untuk kebutuhan masyarakat. Untuk air minum, kadar garam harus berada di bawah 300 miligram per liter. Sementara batas untuk kebutuhan mandi berada pada kisaran maksimal 600 miligram per liter.

Tingginya salinitas tentu menjadi tantangan dalam penyediaan air baku. Pemerintah daerah pun memanfaatkan Waduk Penepat di Kabupaten Kubu Raya sebagai salah satu sumber cadangan air tawar.

Peningkatan kapasitas waduk juga dilakukan untuk memperkuat ketersediaan air baku selama musim kemarau. Langkah tersebut menjadi penting ketika air Sungai Kapuas tidak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat tingginya kandungan garam.

Kabut Asap Mengurangi Jarak Pandang

Selain persoalan debit air, kawasan sekitar hamparan pasir Sungai Kapuas juga menghadapi kabut asap. Kondisi udara tersebut membuat pemandangan di sekitar sungai tidak terlihat sepenuhnya jelas.

Krisantus, salah seorang warga, menyebut kabut asap menutupi pemandangan matahari terbenam. Akibatnya, pengunjung tidak dapat menikmati panorama sore secara maksimal.

Masyarakat yang ingin melihat hamparan pasir di Sekadau dapat menuju kawasan tersebut melalui Jalan Tanjung dari pusat kota. Setelah itu, perjalanan di lanjutkan menuju akses Jalan Sungai Raya.

Fenomena Sungai Kapuas Menunjukkan Dampak Luas Kemarau

Munculnya hamparan pasir memang menciptakan pemandangan berbeda dan menghadirkan tempat rekreasi dadakan bagi masyarakat. Namun, fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan dampak kemarau yang lebih luas terhadap kehidupan di Kalimantan Barat.

Sungai Kapuas bukan hanya bentang alam. Sungai ini menopang transportasi, distribusi barang, kegiatan ekonomi, ekosistem, serta berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah yang dilaluinya.

Karena itu, penyusutan debit air perlu mendapat perhatian lebih dari sekadar fenomena wisata sementara. Gangguan perjalanan tongkang, masuknya air laut hingga persoalan ketersediaan air baku menunjukkan bahwa perubahan kondisi sungai dapat membawa konsekuensi langsung bagi masyarakat.

Hamparan pasir yang kini ramai di kunjungi pun kemungkinan tidak akan bertahan selamanya. Ketika curah hujan kembali meningkat dan debit Sungai Kapuas pulih, permukaan air dapat naik serta menenggelamkan kembali dasar sungai yang saat ini terlihat seperti pantai.