Perkembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Asia Tenggara terus menunjukkan tren positif. Sejumlah negara mulai berlomba membangun ekosistem kendaraan listrik yang kuat, termasuk melalui pengembangan industri baterai sebagai komponen utama EV. Malaysia menjadi salah satu negara yang mengambil langkah strategis dengan memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene. Sementara itu, Indonesia juga mempercepat pembangunan pabrik baterai berskala besar untuk memperkuat industri kendaraan listrik nasional.

Langkah yang di tempuh kedua negara ini menunjukkan semakin ketatnya persaingan dalam membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik di kawasan ASEAN. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor. Investasi di sektor ini juga di harapkan mampu menarik pelaku industri global serta membuka lapangan pekerjaan baru.

Malaysia Kembangkan Baterai EV Berbasis Teknologi Graphene

Produksi baterai lithium-ion berbasis graphene di jadwalkan mulai berlangsung di Malaysia pada Juli 2026. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi tonggak penting karena merupakan pabrik pertama di negara itu yang memproduksi teknologi baterai hasil riset dan pengembangan dalam negeri.

Pengoperasian fasilitas dilakukan oleh Gigafactory Malaysia, perusahaan yang sepenuhnya di miliki NanoMalaysia. Perusahaan tersebut berada di bawah Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) Malaysia dan telah berfokus mengembangkan teknologi nano sejak didirikan pada 2011.

Chief Executive Officer (CEO) NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, menyebut proyek ini berpotensi menjadi yang pertama di kawasan ASEAN yang tidak hanya memproduksi. Tetapi juga mengembangkan teknologi baterai buatan lokal.

Pembangunan fasilitas tersebut di dukung investasi sekitar 20 juta ringgit Malaysia atau setara Rp89 miliar. Investasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Malaysia membangun industri baterai yang lebih mandiri sekaligus memperkuat daya saing sektor kendaraan listrik nasional.

Graphene Di klaim Tingkatkan Performa Baterai

Berbeda dengan mayoritas baterai kendaraan listrik yang saat ini menggunakan teknologi lithium iron phosphate (LFP). NanoMalaysia memilih mengembangkan baterai berbasis kimia nickel manganese cobalt (NMC).

Keunggulan utama teknologi ini terletak pada penggunaan material graphene sebagai pengganti grafit pada elektroda negatif. Material tersebut di kenal memiliki kemampuan menghantarkan listrik lebih baik sehingga di yakini mampu meningkatkan efisiensi penyimpanan energi.

Menurut klaim perusahaan, penggunaan graphene dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat di bandingkan baterai lithium-ion konvensional yang masih menggunakan grafit.

Selain itu, teknologi yang di kembangkan telah mendukung sistem pengisian cepat (fast charging) dengan kepadatan energi lebih dari 200 Wh/kg. Dalam pengujiannya, kendaraan di sebut mampu menempuh jarak hingga sekitar 640 kilometer dalam satu kali pengisian daya. Meski demikian, NanoMalaysia belum mengungkap spesifikasi kendaraan maupun kapasitas baterai yang di gunakan sebagai acuan pengujian.

Proses produksi baterai lithium-ion berbasis graphene di pabrik kendaraan listrik Malaysia.

Ilustrasi baterai mobil listrik

Produksi Perdana Di mulai di Sepang

Tahap awal produksi dilakukan di fasilitas seluas sekitar 15.000 kaki persegi yang berlokasi di Kawasan Industri Suria, Sepang.

Hingga saat ini, NanoMalaysia mengaku telah menerima pesanan awal berupa baterai berkapasitas 25 kWh dari salah satu organisasi lokal. Di samping itu, sejumlah kerja sama lainnya masih berada dalam tahap penyelesaian.

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga mencapai skala megawatt-jam (MWh) paling cepat pada September 2026. Saat beroperasi penuh, fasilitas tersebut di perkirakan mampu menghasilkan kapasitas sekitar 1 MWh per tahun atau setara dengan kurang lebih 92.000 sel baterai.

Target tersebut di harapkan menjadi pijakan awal Malaysia dalam membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik yang mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Indonesia Percepat Operasional Pabrik Baterai EV

Di tengah perkembangan industri baterai di Malaysia, Indonesia juga mempercepat operasional pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia (CATIB) yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat.

Fasilitas tersebut di targetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026, lebih cepat di bandingkan jadwal sebelumnya yang di rencanakan pada kuartal ketiga tahun yang sama.

Director of Corporate Public Affairs PT CATIB, Bayu Hermawan, menjelaskan percepatan operasional dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan transportasi ramah lingkungan dan sistem penyimpanan energi di Indonesia.

Pada tahap awal, kapasitas produksinya di proyeksikan mencapai 6,9 GWh dengan nilai investasi sekitar Rp7 triliun. Selanjutnya, kapasitas tersebut akan di tingkatkan hingga mencapai 15 GWh untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional

Selain memproduksi battery cell, fasilitas CATIB juga akan menghasilkan battery module, battery pack, hingga Battery Energy Storage System (BESS). Seluruh produk tersebut di harapkan mampu memperkuat rantai pasok kendaraan listrik. Sekaligus mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Keberadaan pabrik ini di proyeksikan mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Pembangunannya merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium Antam-IBC-CBL.

Dengan langkah yang di tempuh Malaysia dan Indonesia, persaingan industri baterai kendaraan listrik di kawasan ASEAN di perkirakan akan semakin kompetitif. Kedua negara sama-sama berupaya memperkuat kapasitas produksi, mendorong inovasi teknologi. Serta membangun ekosistem kendaraan listrik yang mampu bersaing di pasar global.