Sanggar Oplet Robet – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan derasnya arus budaya populer, keberadaan seni tradisional menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meski demikian, Sanggar Oplet Robet yang berlokasi di kawasan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, terus membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat. Sejak berdiri pada 2002, sanggar ini konsisten mempertahankan kesenian khas Betawi melalui pertunjukan kreatif yang memadukan unsur tradisi dengan sentuhan modern.
Salah satu keunikan Sanggar Oplet Robet terletak pada konsep pertunjukannya yang menggabungkan dua kesenian Betawi, yaitu tanjidor dan lenong. Perpaduan tersebut kemudian di kenal dengan nama Tanjilenong atau Jinong. Dalam setiap pementasan, para pemain tidak hanya berakting di atas panggung, tetapi juga menampilkan tarian sekaligus memainkan alat musik secara langsung sehingga menciptakan pertunjukan yang lebih hidup dan atraktif.
Menghadirkan Cerita Baru Agar Seni Tradisional Tetap Relevan
Seiring perubahan zaman, Sanggar Oplet Robet menyadari bahwa seni tradisional harus mampu beradaptasi agar tetap di minati oleh generasi muda. Oleh karena itu, mereka tidak lagi hanya mengangkat kisah-kisah klasik tentang kehidupan masyarakat Betawi.
Sebaliknya, sanggar tersebut mulai menghadirkan berbagai cerita baru yang di padukan dengan unsur fantasi dan kehidupan modern. Mulai dari kisah kerajaan fiktif, cerita balas dendam, hingga imajinasi tentang perjalanan ke bulan menjadi bagian dari ide kreatif yang mereka sajikan.
Ketua Sanggar Oplet Robet, Ramdani Qubil, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dilakukan agar pertunjukan tidak terasa monoton. Meski mengambil latar kerajaan, cerita yang di sajikan tetap memasukkan berbagai unsur kekinian sehingga lebih mudah di terima oleh penonton dari berbagai kalangan.
Selain itu, setiap pemain di beri ruang untuk berimprovisasi ketika tampil di atas panggung. Walaupun alur cerita telah disusun melalui naskah, para pemeran tetap di perbolehkan mengembangkan dialog sesuai karakter masing-masing selama tidak keluar dari jalan cerita utama. Cara tersebut di nilai mampu membuat pertunjukan terasa lebih alami dan menghibur.
Penyesuaian Bahasa dan Konsep Panggung
Tidak hanya melakukan pembaruan dari sisi cerita, Sanggar Oplet Robet juga menyesuaikan penggunaan bahasa sesuai dengan tema pertunjukan. Apabila cerita berlatar kehidupan masyarakat Betawi, para pemain menggunakan dialek Betawi sebagai identitas budaya.
Sebaliknya, jika pertunjukan mengambil latar kerajaan atau kisah yang lebih universal, dialog di sampaikan menggunakan bahasa Indonesia agar lebih mudah di pahami oleh seluruh penonton.
Di sisi lain, lokasi pementasan juga semakin berkembang. Jika sebelumnya lebih sering tampil di panggung hiburan masyarakat, kini Sanggar Oplet Robet mulai di percaya mengisi berbagai pertunjukan di gedung kesenian.
Belum lama ini mereka tampil di Gedung Indonesia Kaya. Selanjutnya, kelompok seni tersebut juga di jadwalkan menggelar pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta pada Oktober 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat yang lebih luas.

Penampilan tanjidor-lenong oleh Sanggar Oplet Robet di Gedung PFN Otista Raya
Budaya Betawi Harus Tetap Menjadi Identitas Jakarta
Menjelang usia Jakarta yang hampir mencapai 500 tahun, Ramdani Qubil menilai budaya Betawi tidak boleh kehilangan eksistensinya. Menurutnya, modernisasi sebuah kota tidak seharusnya menghapus identitas budaya yang telah di wariskan selama ratusan tahun.
Ia menegaskan bahwa Jakarta dapat berkembang menjadi kota bertaraf internasional, namun budaya lokal harus tetap menjadi bagian utama yang hidup di tengah masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai tradisi tidak akan tergeser oleh pengaruh budaya asing yang terus berkembang.
Qubil juga mengungkapkan bahwa berkurangnya semangat gotong royong menjadi salah satu penyebab semakin memudarnya kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal. Padahal, melalui kegiatan seni, rasa kebersamaan dan solidaritas dapat kembali di bangun di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.
Kendala Pendanaan Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Di balik berbagai pencapaian yang di raih, Sanggar Oplet Robet masih harus menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan dana operasional. Untuk menggelar pertunjukan selama tiga hari saja, biaya sewa gedung dapat mencapai sekitar Rp60 juta.
Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan lain seperti pembuatan properti, kostum, perlengkapan panggung, transportasi, hingga konsumsi seluruh anggota. Selama ini, sanggar mengandalkan dukungan pemerintah, instansi, maupun berbagai pihak yang memberikan bantuan dalam bentuk donasi.
Meski demikian, Qubil menegaskan bahwa bantuan tersebut diperoleh berkat rekam jejak sanggar yang telah berkarya selama lebih dari dua dekade. Oleh sebab itu, ia selalu mengajak seluruh anggota untuk terus menghasilkan karya terbaik sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kepercayaan yang telah di berikan.
Kreativitas Menjadi Kunci Bertahan
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, dukungan terhadap pelaku seni di nilai semakin terbatas. Karena itu, Sanggar Oplet Robet memilih untuk berinovasi agar pengeluaran produksi tetap dapat di tekan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan kembali bahan-bahan kostum dari pertunjukan sebelumnya. Kostum baru di buat secara mandiri dengan mengombinasikan perlengkapan lama yang masih layak digunakan. Cara tersebut tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mendorong kreativitas para anggota dalam menghasilkan tampilan yang lebih menarik.
Saat ini Sanggar Oplet Robet memiliki sekitar 100 anggota dengan mayoritas berasal dari kalangan muda. Kehadiran generasi muda menjadi harapan besar agar kesenian Betawi tetap memiliki regenerasi yang kuat.
Qubil percaya bahwa seorang seniman seharusnya lebih mengutamakan karya di bandingkan keuntungan materi. Menurutnya, apabila sebuah karya di kerjakan dengan ketulusan dan dedikasi, maka penghargaan serta rezeki akan datang seiring berjalannya waktu.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelestarian seni tradisional. Sebab, seni bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari identitas bangsa yang harus di jaga dan di wariskan kepada generasi berikutnya. Dengan semangat inovasi, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya, Sanggar Oplet Robet optimistis kesenian Betawi akan terus hidup meski menghadapi berbagai tantangan zaman.