Pasar Sewandanan – Kadipaten Pakualaman kembali menghadirkan Pasar Sewandanan sebagai salah satu agenda utama dalam peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214. Melalui kegiatan ini, Kadipaten Pakualaman ingin memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Yogyakarta.

Pasar Sewandanan menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat dan wisatawan. Pengunjung tidak hanya dapat berbelanja, tetapi juga menikmati suasana budaya yang kental dengan nuansa tradisional khas Yogyakarta. Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan perpaduan antara hiburan, kuliner, dan aktivitas ekonomi dalam satu kawasan.

Tahun ini, penyelenggara mengangkat tema “Menyemai Citarasa Klasik, Memanen Geliat Ekonomi Otentik”. Tema tersebut menggambarkan semangat untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Kuliner Tempo Dulu Hadirkan Kenangan dan Cita Rasa Khas

Salah satu daya tarik utama Pasar Sewandanan terletak pada ragam kuliner tradisional yang hadir selama acara berlangsung. Para pelaku usaha menghadirkan berbagai makanan dan jajanan khas yang pernah populer pada masa lalu.

Melalui konsep ini, pengunjung dapat mengenang kembali cita rasa yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Generasi muda pun memperoleh kesempatan untuk mengenal kekayaan kuliner tradisional yang mulai jarang ditemukan di tengah perkembangan makanan modern.

Kehadiran kuliner jadul tidak hanya menghadirkan pengalaman nostalgia, tetapi juga memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap hidangan. Oleh karena itu, Pasar Sewandanan menjadi ruang yang menghubungkan tradisi dengan generasi masa kini melalui pengalaman kuliner yang autentik.

UMKM Lokal Mendapat Ruang untuk Berkembang

Pasar Sewandanan juga membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Lebih dari 40 tenant ikut meramaikan acara dengan menawarkan berbagai produk unggulan.

Para pelaku UMKM menampilkan aneka makanan tradisional, produk kreatif, kerajinan tangan, hingga berbagai hasil karya lokal yang mencerminkan identitas budaya Yogyakarta. Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya pilihan bagi pengunjung, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk memperluas jaringan pemasaran, memperkenalkan produk kepada konsumen baru, dan meningkatkan pendapatan. Di sisi lain, masyarakat dapat mendukung produk lokal secara langsung melalui transaksi yang terjadi selama acara berlangsung.

Langkah tersebut menunjukkan komitmen Kadipaten Pakualaman dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal.

Pasar Sewandanan

Pura Pakualaman yang akan digunakan untuk Mlampah Ratri, Kamis (26/6/2025). Kadipaten Pakualaman mengadakan Pasar Séwandanan, dalam rangka memperingati Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214.

Bazar Pangan Murah Bantu Kebutuhan Masyarakat

Selain menghadirkan produk UMKM, Pasar Sewandanan juga menyediakan Bazar Pangan Murah. Program ini membantu masyarakat memperoleh berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Melalui bazar tersebut, penyelenggara berupaya meringankan beban masyarakat sekaligus menjaga akses terhadap kebutuhan sehari-hari. Kehadiran program ini memperlihatkan bahwa perayaan budaya tidak hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan demikian, Pasar Sewandanan mampu menghadirkan dampak sosial dan ekonomi secara bersamaan.

Khitanan Massal Wujud Kepedulian Sosial

Rangkaian peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman tidak hanya menonjolkan aspek budaya dan ekonomi. Kadipaten Pakualaman juga menghadirkan program khitanan massal gratis sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis Legi, 18 Juni 2026, di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo. Melalui program ini, keluarga yang membutuhkan dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa biaya.

Khitanan massal menjadi salah satu bentuk pengabdian sosial yang mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong. Program ini juga memperkuat hubungan antara lembaga budaya dan masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung.

Festival Jathilan Perkuat Eksistensi Seni Tradisional

Selain Pasar Sewandanan dan khitanan massal, peringatan tahun ini juga menghadirkan Festival Jathilan. Acara tersebut menjadi ruang ekspresi bagi para seniman dan kelompok seni tradisional untuk menampilkan karya terbaik mereka.

Festival Jathilan mengusung semangat “Klasik Asik”, sebuah konsep yang mengajak masyarakat menikmati kesenian tradisional dengan cara yang lebih dekat dan menarik. Para seniman dapat memperkenalkan kreativitas mereka kepada publik, sementara pengunjung memperoleh pengalaman budaya yang autentik.

Melalui festival ini, Kadipaten Pakualaman berupaya menjaga keberlanjutan seni pertunjukan rakyat sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal.

Makna Filosofis Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214

Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman tahun 2026 mengangkat tema “Rinarasing Astuti Nir Ing Sikara”. Tema tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup melalui rasa syukur, ketulusan, dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai tersebut mengajak masyarakat untuk membangun keharmonisan dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dari keharmonisan itulah lahir ketenteraman, persatuan, dan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Melalui Pasar Sewandanan, Festival Jathilan, khitanan massal, dan berbagai kegiatan lainnya, Kadipaten Pakualaman tidak hanya merayakan perjalanan sejarahnya. Lebih dari itu, Kadipaten Pakualaman menghadirkan ruang yang mempertemukan budaya, ekonomi, dan kepedulian sosial dalam satu perayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat serta memperkuat daya tarik wisata Yogyakarta.