Tren Camilan Ube mulai mencuri perhatian pecinta kuliner di Indonesia sepanjang 2026. Setelah matcha mendominasi pasar selama beberapa tahun, kini ubi ungu atau ube tampil sebagai pilihan baru. Banyak produsen makanan memanfaatkan bahan ini untuk menciptakan camilan dan minuman kekinian. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa selera konsumen terus berubah mengikuti perkembangan tren kuliner.
Ube menawarkan rasa yang khas dengan warna ungu cerah. Kombinasi itu membuat tampilannya menarik sekaligus mudah dikenali. Tidak heran jika semakin banyak pelaku industri makanan memasukkan ubi ungu ke dalam daftar bahan utama produk mereka. Pengaruh kuliner Jepang dan Korea Selatan juga ikut mendorong popularitas bahan ini di Indonesia.
Tren Rasa Camilan Terus Berubah
Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto, menjelaskan bahwa tren rasa camilan selalu berganti. Sebelumnya masyarakat menyukai camilan bercita rasa cokelat. Setelah itu, produk dengan rasa beri mulai diminati. Tren kemudian bergeser ke matcha. Kini perhatian konsumen mulai mengarah pada ubi ungu.
Perubahan tersebut menjadi sinyal penting bagi pelaku industri makanan. Mereka harus mampu membaca perkembangan pasar. Selain itu, mereka perlu menghadirkan inovasi yang sesuai dengan selera konsumen.
Garudafood menjadi salah satu perusahaan yang merespons perubahan tersebut. Perusahaan menghadirkan produk Gery Snack Bantal Ubi sebagai salah satu inovasi terbaru. Produk itu memanfaatkan ubi ungu sebagai bahan utama. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab meningkatnya minat masyarakat terhadap ube.
Setiap Produk Melewati Tahap Riset
Garudafood tidak langsung mengikuti setiap tren yang muncul. Perusahaan lebih dulu melakukan berbagai pengujian kepada konsumen. Tujuannya untuk mengetahui apakah sebuah produk benar-benar diminati pasar.
Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, mengatakan bahwa setiap ide harus melalui proses evaluasi. Tim perusahaan mengukur respons konsumen sebelum memulai produksi dalam jumlah besar. Cara tersebut membantu perusahaan mengurangi risiko sekaligus menjaga kualitas inovasi.
Menurut Niken, pendekatan itu juga membuat perusahaan lebih percaya diri saat meluncurkan produk baru. Inovasi yang sesuai kebutuhan pasar memiliki peluang lebih besar untuk sukses.
Matcha Pernah Mendorong Pertumbuhan Penjualan
Sebelum ube menjadi tren, matcha memberikan dampak besar terhadap penjualan beberapa produk. Salah satu contohnya adalah Malkist Matcha. Produk tersebut mencatat pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan ketika tren matcha berkembang di Indonesia.
Niken menjelaskan bahwa penjualan produk itu meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat. Menariknya, produk tersebut sebenarnya sudah tersedia sebelum matcha menjadi populer. Tren pasar kemudian membuat penjualannya melonjak.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa momentum memiliki peran penting dalam industri makanan. Produk yang tepat dapat berkembang lebih cepat ketika selera konsumen berubah.

Memasuki 2026, tren makanan mulai bergeser ke ube atau ubi ungu yang kian banyak diolah menjadi makanan dan minuman kekinian.
Produk Indonesia Menjangkau Pasar Internasional
Inovasi yang dilakukan Garudafood tidak hanya menyasar pasar dalam negeri. Berbagai produk camilan Gery kini telah dipasarkan ke sejumlah negara. Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Australia, China, dan India menjadi beberapa tujuan ekspor.
Perluasan pasar tersebut menunjukkan bahwa produk makanan ringan Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Kualitas produk dan kemampuan membaca tren menjadi faktor yang mendukung pencapaian tersebut.
Selain itu, meningkatnya minat masyarakat Asia Pasifik terhadap camilan juga membuka peluang baru bagi produsen nasional. Kondisi ini memberi ruang lebih besar untuk memperkenalkan produk lokal ke pasar global.
Konsumen Indonesia Tetap Mengutamakan Rasa
Masyarakat Indonesia dikenal gemar menikmati camilan. Data NIQ Indonesia Mid Year Consumer Outlook Guide 2025 menunjukkan bahwa 50,1 persen konsumen FMCG mengonsumsi lebih dari dua kategori camilan.
Fransiskus Johny Soegiarto mengatakan bahwa rasa masih menjadi pertimbangan utama saat membeli camilan. Harga juga memengaruhi keputusan konsumen. Banyak orang memilih makanan ringan sebagai pengganjal lapar sebelum waktu makan utama karena lebih praktis.
Di sisi lain, cara menikmati camilan juga mengalami perubahan. Sebelum pandemi, konsumen lebih sering memegang makanan langsung dari kemasan. Kini banyak orang memilih cara yang lebih higienis. Perubahan kebiasaan tersebut ikut memengaruhi pengembangan produk baru.
Aspek Kesehatan Semakin Diperhatikan
Konsumen kini mulai memberi perhatian lebih terhadap kandungan bahan makanan. Laporan Innova Market Insights menunjukkan bahwa komposisi bahan ikut memengaruhi keputusan pembelian. Faktor tersebut melengkapi pertimbangan rasa dan harga.
Meski demikian, Frans menilai tren makanan sehat belum menjadi prioritas seluruh masyarakat. Sebagian konsumen masih lebih fokus pada rasa yang enak dan harga yang terjangkau. Kondisi itu terutama terlihat pada kelompok menengah ke bawah.
Walaupun begitu, Garudafood tetap menghadirkan produk dengan kandungan yang lebih baik. Perusahaan juga memastikan setiap produk memenuhi ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Informasi mengenai gula, garam, dan kandungan gizi lainnya tercantum pada kemasan. Langkah tersebut membantu konsumen memahami isi produk sebelum membeli. Transparansi informasi juga menjadi bagian dari tanggung jawab produsen.
Ube Berpeluang Menjadi Tren Jangka Panjang
Popularitas ubi ungu menunjukkan bahwa tren kuliner selalu berkembang. Konsumen terus mencari rasa baru yang menarik sekaligus memiliki tampilan berbeda. Ube memenuhi kedua kebutuhan tersebut melalui warna ungu cerah dan cita rasa yang khas.
Jika minat masyarakat terus meningkat, penggunaan ubi ungu kemungkinan akan semakin luas. Bahan ini dapat hadir dalam biskuit, roti, minuman, es krim, hingga berbagai jenis camilan lainnya. Oleh karena itu, tren camilan ube berpotensi menjadi salah satu inovasi terbesar di industri makanan Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.