Operasi Bariatrik – Di tengah meningkatnya angka obesitas, operasi bariatrik masih sering di salahpahami oleh masyarakat sebagai tindakan medis yang semata-mata bertujuan untuk menurunkan berat badan. Padahal, dalam dunia kedokteran, prosedur ini memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks dan strategis. Operasi bariatrik sejatinya merupakan bagian dari terapi medis jangka panjang untuk menangani obesitas sebagai penyakit kronis. Bukan solusi instan demi penampilan semata.

Dokter spesialis bedah di gestif konsultan, Adeodatus Yuda Handaya, menegaskan bahwa penurunan berat badan hanyalah dampak lanjutan dari tujuan utama operasi ini. Fokus utama tindakan bariatrik adalah memperbaiki kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Terutama pada mereka yang memiliki risiko penyakit serius akibat obesitas.

Obesitas Sebagai Penyakit Kronis yang Serius

Dalam praktik medis modern, obesitas tidak lagi di pandang sebagai masalah estetika atau gaya hidup semata. Organisasi kesehatan global telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, gangguan sendi, hingga perlemakan hati.

Penumpukan lemak berlebih juga berdampak pada sistem pernapasan, salah satunya menyebabkan sleep apnea atau gangguan napas saat tidur. Oleh karena itu, penanganan obesitas memerlukan pendekatan medis yang komprehensif dan berkelanjutan. Operasi bariatrik menjadi salah satu opsi terapi ketika metode konservatif seperti diet dan olahraga tidak lagi memberikan hasil optimal.

Tujuan Medis Operasi Bariatrik

Berbeda dari anggapan populer, operasi bariatrik tidak di rancang untuk semua orang yang ingin bertubuh langsing. Prosedur ini bertujuan untuk menurunkan risiko komplikasi medis yang mengancam kualitas hidup pasien. Dengan berkurangnya berat badan dan perbaikan metabolisme tubuh, banyak pasien mengalami peningkatan kontrol gula darah. Tekanan darah yang lebih stabil, serta penurunan kadar kolesterol.

Menurut dr. Adeodatus, manfaat kesehatan inilah yang menjadi prioritas utama. Jika operasi di lakukan tanpa indikasi medis yang jelas, justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Seperti kekurangan nutrisi, defisiensi vitamin, hingga gangguan pencernaan. Oleh sebab itu, seleksi pasien di lakukan dengan sangat ketat.

Operasi Bariatrik

Ilustrasi.

Kriteria Pasien yang Layak Menjalani Operasi Bariatrik

Penentuan kelayakan operasi bariatrik tidak hanya berdasarkan keinginan pasien, melainkan melalui evaluasi medis yang menyeluruh. Salah satu parameter utama yang di gunakan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI), di sertai dengan keberadaan penyakit penyerta atau komorbid.

Secara umum, kandidat operasi bariatrik meliputi:

  • Pasien dengan BMI ≥40, meskipun tidak memiliki penyakit penyerta.

  • Pasien dengan BMI 30–34,9 yang di sertai penyakit seperti diabetes, hipertensi, gangguan jantung, atau masalah sendi.

  • Untuk populasi Asia, batas BMI cenderung lebih rendah. Pasien dengan BMI di atas 28 yang memiliki komorbid juga dapat di pertimbangkan.

Namun, BMI bukan satu-satunya faktor penentu. Dokter juga menilai komposisi tubuh, kadar lemak, kondisi metabolik, serta riwayat usaha penurunan berat badan sebelumnya.

Evaluasi Menyeluruh Sebelum Tindakan Operasi

Pasien yang di rekomendasikan menjalani operasi bariatrik umumnya telah mencoba berbagai metode non-bedah, seperti pengaturan pola makan dan aktivitas fisik, namun tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam beberapa kasus, pasien sebenarnya di anjurkan untuk berolahraga, tetapi kondisi sendi yang sudah mengalami kerusakan membuat aktivitas fisik intensif menjadi tidak memungkinkan.

Evaluasi praoperasi juga mencakup kesiapan mental dan komitmen pasien untuk menjalani perubahan gaya hidup jangka panjang setelah operasi. Tanpa kedisiplinan dalam menjaga pola makan dan asupan nutrisi, hasil operasi tidak akan optimal.

Dokter Adeodatus, yang juga berpraktik di RSUP Dr Sardjito, menekankan bahwa operasi bariatrik hanyalah salah satu bagian dari proses terapi. Keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada kerja sama antara pasien, dokter, dan tim medis lainnya.

Edukasi Publik tentang Operasi Bariatrik

Masih maraknya stigma bahwa operasi bariatrik adalah “jalan pintas” menunjukkan pentingnya edukasi publik yang lebih luas. Informasi medis yang akurat perlu di sampaikan agar masyarakat memahami bahwa tindakan ini di tujukan untuk menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan obesitas berat.

Seperti di laporkan oleh Kompas.com, pemahaman yang tepat mengenai operasi bariatrik dapat membantu pasien mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kesehatan, bukan sekadar dorongan estetika. Dengan demikian, operasi bariatrik dapat di tempatkan sesuai perannya sebagai terapi medis yang bertanggung jawab dan berbasis bukti ilmiah.