Asian Games 2026 – Prestasi atletik Indonesia pada akhir tahun lalu menjadi penanda penting kebangkitan olahraga nasional, khususnya cabang atletik. Keberhasilan kontingen atletik Indonesia pada ajang SEA Games Thailand 2025 tidak hanya melampaui target yang di tetapkan. Tetapi juga memberikan optimisme baru dalam menatap agenda multievent yang lebih besar, yaitu Asian Games 2026 di Aichi–Nagoya, Jepang. Pencapaian tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus pijakan strategis bagi Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dalam menyusun program pembinaan jangka menengah.

Keberhasilan ini tidak hadir secara instan, melainkan melalui perencanaan dan pelaksanaan program latihan yang terukur. Salah satunya melalui pemusatan latihan atau training camp (TC) di luar negeri. Program ini di nilai mampu memberikan peningkatan performa signifikan dalam waktu relatif singkat.

Efektivitas Training Camp di Kenya

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap lonjakan prestasi atletik Indonesia adalah pelaksanaan training camp di Kenya. Negara tersebut di kenal sebagai pusat pengembangan atlet lari jarak menengah dan jarak jauh dunia. Lingkungan geografis, ketinggian wilayah, serta budaya latihan yang kompetitif menjadikan Kenya sebagai destinasi ideal untuk penguatan kapasitas fisik dan mental atlet.

Hasil konkret dari program ini terlihat jelas pada SEA Games 2025. Di mana Tim Atletik Indonesia berhasil meraih sembilan medali emas, melampaui target awal tujuh emas. Prestasi tersebut memperkuat keyakinan PB PASI bahwa program TC di Kenya layak untuk kembali di jadikan bagian integral dari sistem pelatnas ke depan.

Asian Games 2026

Pelari Indonesia Robi Syianturi. Foto: Mercy Raya.

 

Peran Atlet Unggulan dalam Kesuksesan Program

Keberhasilan program pelatihan di Kenya tercermin dari performa atlet-atlet unggulan Indonesia, khususnya pada nomor lari jarak jauh. Dua nama yang menonjol adalah Odekta Elvina Naibaho dan Robi Syianturi. Keduanya berhasil meraih medali emas setelah menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di Kenya.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa pendekatan pembinaan berbasis kebutuhan nomor pertandingan mampu menghasilkan dampak signifikan. Tidak hanya peningkatan catatan waktu, tetapi juga kesiapan mental bertanding di level internasional menjadi hasil penting dari program tersebut.

Fokus Pembinaan Nomor Jarak Jauh Menuju Asian Games 2026

Menjelang Asian Games 2026 yang akan berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober, PB PASI menetapkan fokus utama pada nomor jarak jauh, jarak menengah, dan maraton. Nomor-nomor ini dinilai memiliki potensi realistis untuk bersaing di tingkat Asia apabila di persiapkan secara optimal.

Training camp di Kenya kembali di rencanakan sebagai bagian dari strategi utama pelatnas. Program ini di rancang tidak hanya untuk peningkatan fisik, tetapi juga adaptasi terhadap ritme latihan internasional yang lebih kompetitif. Pendekatan ini sejalan dengan visi pembinaan berkelanjutan yang menekankan konsistensi, kualitas latihan, dan evaluasi performa berbasis data.

Alternatif Lokasi Latihan untuk Nomor Sprint

Berbeda dengan nomor jarak jauh, pembinaan atlet nomor sprint memerlukan pendekatan yang berbeda. PB PASI sebelumnya telah mengirim atlet sprint ke Jepang, dan hasilnya terbukti positif. Medali emas pada nomor lari gawang 100 meter serta perak pada nomor 100 meter menjadi bukti bahwa pemilihan lokasi latihan yang tepat sangat berpengaruh terhadap hasil akhir.

Meski demikian, hingga saat ini PB PASI masih melakukan kajian mendalam untuk menentukan lokasi training camp paling ideal bagi atlet sprint. Persaingan ketat dengan negara-negara kuat seperti China dan Jepang menuntut strategi latihan yang lebih spesifik, baik dari sisi teknik, kekuatan, maupun kecepatan reaksi.

Strategi Berkelanjutan Menuju Prestasi Asia

Secara keseluruhan, strategi PB PASI dalam menyiapkan atlet menuju Asian Games 2026 menunjukkan pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis evaluasi prestasi. Pengalaman sukses dari program sebelumnya di jadikan referensi utama, namun tetap di sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing nomor pertandingan.

Dengan memadukan pemusatan latihan luar negeri, penguatan pelatnas dalam negeri, serta pemantauan performa secara berkelanjutan, di harapkan atletik Indonesia mampu mempertahankan momentum kebangkitan dan meningkatkan daya saing di tingkat Asia. Langkah ini tidak hanya berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga pada pembangunan fondasi prestasi jangka panjang yang berkelanjutan.