Overwork – Jam kerja yang panjang masih sering di persepsikan sebagai simbol etos kerja tinggi, loyalitas, dan produktivitas. Banyak pekerja merasa perlu menghabiskan waktu lebih lama di tempat kerja untuk menunjukkan dedikasi terhadap perusahaan. Namun, pandangan tersebut semakin di pertanyakan seiring munculnya berbagai kajian yang menunjukkan bahwa bekerja secara berlebihan justru dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.

Di Indonesia, fenomena jam kerja berlebihan bukanlah hal baru. Data statistik ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jutaan pekerja menghabiskan waktu kerja jauh di atas batas ideal mingguan. Kondisi ini menempatkan sebagian besar tenaga kerja pada risiko kelelahan kerja kronis atau overwork. Situasi serupa juga di temukan di berbagai negara lain, menandakan bahwa persoalan jam kerja panjang merupakan isu global yang membutuhkan perhatian serius.

Risiko Kesehatan Fisik Akibat Overwork

Bekerja dalam durasi yang terlalu lama tidak hanya berdampak pada rasa lelah sesaat, tetapi juga memicu gangguan kesehatan serius. Penelitian internasional mengaitkan jam kerja di atas batas normal dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung. Stres yang berlangsung terus-menerus menyebabkan tubuh berada dalam kondisi siaga berkepanjangan, sehingga sistem organ bekerja lebih keras dari kemampuan alaminya.

Ketika stres kronis terjadi, tubuh akan memproduksi hormon seperti kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Hormon-hormon ini, jika di lepaskan terus-menerus, dapat membebani jantung dan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berkontribusi pada peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung, dan peradangan sistemik.

Dampak Overwork pada Sistem Tubuh Lainnya

Selain jantung, jam kerja panjang juga memengaruhi berbagai sistem tubuh lain. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah gangguan tidur. Pekerja yang terbiasa bekerja hingga larut malam sering mengalami kesulitan untuk beristirahat karena pikiran tetap terfokus pada pekerjaan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Stres kerja juga berdampak pada sistem pencernaan. Ketegangan emosional dapat mengganggu keseimbangan kerja usus, memicu keluhan seperti perut kembung, sembelit, hingga gangguan pencernaan fungsional. Di sisi lain, daya tahan tubuh dapat menurun akibat kelelahan berkepanjangan, sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Masalah muskuloskeletal juga sering di alami pekerja dengan jam kerja panjang, terutama mereka yang bekerja dalam posisi duduk terlalu lama. Nyeri pada leher, bahu, dan punggung bawah menjadi keluhan umum akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan kurangnya waktu untuk bergerak.

Overwork

Ilustrasi Bekerja.

Overwork dan Kesehatan Mental Pekerja

Tidak hanya fisik, dampak overwork juga sangat terasa pada kesehatan mental. Jam kerja berlebihan kerap di kaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan, kelelahan emosional, dan burnout. Ketika pekerjaan mulai mengambil alih waktu istirahat dan kehidupan sosial, keseimbangan hidup pun terganggu.

Salah satu tanda awal gangguan mental akibat overwork adalah hilangnya kemampuan menikmati waktu luang. Pekerja mungkin tetap memikirkan pekerjaan saat libur, sulit melepaskan diri dari tekanan target, dan merasa bersalah ketika tidak produktif. Jika di biarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi ringan hingga berat.

Konsekuensi Sosial dan Perilaku Tidak Sehat

Dampak jam kerja panjang tidak berhenti pada individu, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial. Pekerja yang kelelahan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, mengurangi interaksi dengan keluarga dan teman. Isolasi sosial ini dapat memperparah tekanan psikologis yang sudah ada.

Dalam beberapa kasus, individu yang mengalami stres kerja kronis berisiko mengadopsi perilaku tidak sehat sebagai mekanisme pelarian, seperti konsumsi alkohol berlebihan atau pola makan yang buruk. Hal ini semakin memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan dan menciptakan lingkaran masalah yang sulit di putus.

Pentingnya Batasan Jam Kerja dan Istirahat

Tubuh manusia memiliki kapasitas energi yang terbatas. Tanpa waktu istirahat yang memadai, performa kerja justru akan menurun, meskipun jam kerja terus di tambah. Oleh karena itu, pengaturan jam kerja yang seimbang, istirahat cukup, serta perhatian terhadap kesehatan mental menjadi kunci untuk menjaga produktivitas jangka panjang.

Kesadaran bahwa bekerja lebih lama tidak selalu berarti bekerja lebih efektif perlu di tanamkan, baik oleh pekerja maupun organisasi. Dengan menciptakan budaya kerja yang lebih sehat, risiko kesehatan akibat overwork dapat di minimalkan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup dan kinerja secara berkelanjutan.