Konflik Israel Iran – Pada 28 Februari 2026, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai babak baru setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah titik strategis di Iran. Operasi militer tersebut menargetkan infrastruktur nuklir, fasilitas pengembangan rudal balistik, serta pusat komando Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam dinamika konflik regional yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Serangan tersebut bukanlah peristiwa spontan, melainkan akumulasi dari ketegangan historis, kebuntuan diplomasi, serta instabilitas domestik di Iran.

Akar Historis Ketegangan Iran dan Israel

Hubungan antara Iran dan Israel tidak selalu berada dalam kondisi permusuhan. Sebelum terjadinya Revolusi Islam 1979, Iran di bawah kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi menjalin relasi strategis dengan Amerika Serikat dan Israel. Pada periode tersebut, kerja sama di bidang pertahanan dan energi nuklir berkembang cukup erat.

Program nuklir Iran bahkan berakar pada kerja sama dengan Amerika Serikat melalui inisiatif “Atoms for Peace” yang di luncurkan pada akhir 1950-an. Namun, situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam yang di pimpin oleh Ruhollah Khomeini pada 1979. Sejak saat itu, Iran mengadopsi kebijakan luar negeri yang secara terbuka menentang pengaruh Barat dan menolak legitimasi Israel sebagai negara.

Perubahan ideologi tersebut menjadi fondasi konflik berkepanjangan yang hingga kini terus memengaruhi dinamika keamanan kawasan.

Kebuntuan Diplomasi dan Krisis Program Nuklir

Pemicu langsung serangan 28 Februari 2026 adalah kegagalan negosiasi nuklir yang berlangsung di Jenewa. Proses diplomasi yang di mediasi oleh sejumlah negara Eropa mengalami stagnasi setelah perbedaan mendasar mengenai syarat pembatasan program nuklir Iran.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menuntut pembongkaran permanen fasilitas nuklir utama Iran, termasuk Fordow dan Natanz, penghentian total pengembangan rudal balistik, serta pemutusan dukungan terhadap kelompok proksi regional seperti Hezbollah dan Hamas.

Iran menolak tuntutan tersebut dengan alasan pelanggaran kedaulatan nasional. Washington kemudian menilai sikap Teheran sebagai indikasi bahwa Iran berupaya memperkuat kapasitas militernya di balik proses negosiasi. Ketidakpercayaan ini mempercepat pergeseran dari jalur diplomasi menuju opsi militer.

Konflik Israel Iran

Tangkapan layar dari media sosial yang telah diverifikasi AFPTV, memperlihatkan kehancuran setelah serangan Israel ke Teheran, Iran.

Faktor Domestik: Instabilitas Internal Iran

Selain tekanan eksternal, kondisi dalam negeri Iran turut mempercepat eskalasi konflik. Sejak akhir 2025, gelombang protes besar terjadi di berbagai kota akibat krisis ekonomi yang semakin memburuk. Nilai tukar rial yang anjlok, inflasi tinggi, serta pengangguran menjadi pemicu utama ketidakpuasan publik.

Respons pemerintah terhadap aksi demonstrasi di nilai represif oleh sejumlah lembaga hak asasi manusia internasional. Ribuan korban di laporkan jatuh selama penindakan aparat keamanan. Dalam konteks ini, dukungan terbuka Presiden Donald Trump terhadap demonstran Iran memperkeruh situasi dan memperbesar potensi intervensi eksternal.

Instabilitas domestik membuat posisi pemerintah Iran berada dalam tekanan ganda: menghadapi oposisi internal sekaligus tekanan militer dari luar.

Eskalasi Militer dan Serangan Pre-Emptif

Ketegangan sebenarnya telah meningkat sejak konflik singkat antara Iran dan Israel pada pertengahan 2025 yang menunjukkan bahwa konfrontasi terbatas tidak lagi mampu meredam ancaman strategis di kawasan. Pada Februari 2026, Amerika Serikat mengerahkan dua gugus tugas kapal induk ke Teluk Persia sebagai bentuk tekanan militer.

Serangan 28 Februari 2026 kemudian di luncurkan dengan dalih tindakan pencegahan (pre-emptive strike). Israel menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan menghilangkan ancaman eksistensial yang di nilai berasal dari pengembangan teknologi nuklir dan retorika permusuhan Iran.

Langkah ini sekaligus menandai pergeseran dari konflik bayangan (proxy conflict) menuju konfrontasi terbuka yang berisiko melibatkan lebih banyak aktor regional.

Dampak Geopolitik dan Prospek Ke Depan

Serangan udara terkoordinasi ini berpotensi memperluas instabilitas di Timur Tengah. Risiko pembalasan dari Iran terhadap kepentingan Israel maupun Amerika Serikat di kawasan sangat terbuka. Selain itu, keterlibatan kelompok proksi dan negara-negara sekutu masing-masing pihak dapat memperluas konflik menjadi krisis regional yang lebih besar.

Secara historis, konflik ini berakar dari perubahan ideologi politik Iran sejak 1979, di perparah oleh ketegangan program nuklir, serta dinamika politik domestik yang tidak stabil. Tanpa adanya terobosan diplomatik baru, eskalasi militer dapat terus berlanjut dan memperdalam polarisasi geopolitik global.

Dalam konteks hubungan internasional, peristiwa ini menunjukkan bagaimana kegagalan negosiasi, tekanan domestik, dan rivalitas ideologis dapat bermuara pada penggunaan kekuatan militer sebagai pilihan terakhir. Konflik Israel–AS dan Iran kini memasuki fase yang lebih terbuka, dengan implikasi strategis yang tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga pada stabilitas global secara keseluruhan.