Kain tradisional Sasirangan asal Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, kembali menegaskan eksistensinya di tingkat internasional melalui ajang Indonesia Creative Week Belgium yang di selenggarakan di Antwerp Central Station. Kehadiran Sasirangan dalam kegiatan ini memperkuat perannya sebagai wastra Nusantara yang tidak hanya bernilai estetis. Tetapi juga strategis sebagai medium diplomasi budaya Indonesia di kawasan Eropa.

Pemanfaatan ruang publik yang di kenal sebagai salah satu stasiun kereta paling bersejarah dan ikonik di dunia. Sehingga menjadikan perhelatan ini sebagai panggung terbuka bagi pertemuan lintas budaya antara Indonesia dan masyarakat Eropa. Acara ini berhasil menarik ratusan pengunjung, yang mayoritas merupakan warga Belgia. Sekaligus menunjukkan tingginya minat publik internasional terhadap budaya Indonesia ketika di sajikan secara kontekstual dan relevan.

Peran Native Indonesia dalam Diplomasi Budaya

Untuk kedua kalinya, organisasi budaya Native Indonesia menginisiasi pergelaran busana di Antwerp Central Station. Konsistensi ini menegaskan komitmen Native Indonesia dalam mengembangkan diplomasi budaya berbasis ruang publik yang inklusif dan partisipatif. Pendekatan tersebut memungkinkan interaksi langsung antara karya budaya Indonesia dan masyarakat internasional tanpa batasan formal.

Melalui format ini, budaya Indonesia tidak hanya di tampilkan sebagai objek pameran, tetapi di hadirkan sebagai pengalaman yang hidup. Membangun kedekatan emosional sekaligus memperluas pemahaman lintas budaya.

Kain Sasirangan

Kain Sasirangan Tanah Laut Asal Kalsel Curi Perhatian Masyarakat Belgia. (Foto: Okezone)

Kolaborasi Internasional dalam Fesyen Kontemporer

Indonesia Creative Week Belgium menghadirkan delapan desainer dari berbagai negara, termasuk Belgia, Belanda, Spanyol, dan Rwanda. Sehingga kolaborasi lintas negara ini menghasilkan karya fesyen kontemporer berbasis kain Sasirangan yang dapat di terima oleh pasar Eropa tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Setiap desainer menampilkan rancangan orisinal yang di peragakan langsung di runway. Proses kreatif ini menunjukkan bahwa tekstil tradisional tidak bersifat statis, melainkan mampu beradaptasi dan bertransformasi mengikuti dinamika mode global. Sehingga sasirangan di posisikan sebagai material kreatif yang fleksibel, menjembatani nilai-nilai lokal dengan estetika internasional.

Tanah Laut sebagai Poros Kreatif dan Budaya

Dalam keseluruhan rangkaian kegiatan, Kabupaten Tanah Laut memegang peran strategis sebagai penyedia utama kain Sasirangan yang di gunakan para desainer. Sehingga keterlibatan ini memperkuat hubungan antara perajin lokal dengan ekosistem industri fesyen global.

Kehadiran delapan desain berbasis Sasirangan di runway internasional menjadi simbol penguatan posisi Tanah Laut sebagai poros kreatif dan budaya. Selain meningkatkan visibilitas daerah, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan kapasitas perajin melalui transfer pengetahuan, peningkatan kualitas produk, serta perluasan jejaring internasional.

Dukungan Pemerintah dalam Diplomasi Budaya

Acara ini turut di hadiri oleh Andri Hadi selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia bersama Ibu Ferial Hadi dari KBRI Brussels. Kehadiran perwakilan negara tersebut menunjukkan dukungan nyata pemerintah Indonesia terhadap diplomasi budaya sebagai bagian dari strategi hubungan internasional.

Ketua Dekranasda Kabupaten Tanah Laut, Dian Rahmat Trianto, menegaskan bahwa partisipasi dalam Indonesia Creative Week Belgium merupakan tonggak penting dalam upaya membawa Sasirangan ke panggung global. Melalui program inkubasi kreatif dan kolaborasi bersama Native Indonesia, Dekranasda berkomitmen memberdayakan perajin lokal serta membuka peluang kerja sama dengan desainer nasional maupun internasional. Sasirangan di pandang sebagai tradisi hidup yang memiliki potensi besar untuk berkembang dalam ranah fesyen kontemporer global.

Indonesia Creative Week Belgium sebagai Ruang Dialog Budaya

Founder Native Indonesia, Irin Puspasari, menegaskan bahwa Indonesia Creative Week Belgium lahir dari keinginan untuk menghadirkan Indonesia secara lebih dekat dan bermakna. Acara ini tidak hanya berfokus pada pameran karya, tetapi juga membuka ruang percakapan, membangun koneksi, serta mempertemukan budaya dalam suasana saling menghargai.

Selama dua hari penyelenggaraan, mode, budaya, dan pertunjukan berpadu dalam pengalaman yang imersif. Indonesia Creative Week Belgium di posisikan sebagai eksplorasi budaya dan pertukaran kreatif yang hidup di ruang publik, dengan tujuan mendorong terbentuknya jejaring dan transaksi internasional di sektor industri kreatif.

Kesimpulan

Penyelenggaraan Indonesia Creative Week Belgium membuktikan bahwa fesyen dapat berfungsi sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi, serta antara perayaan budaya dan dialog antarbangsa. Sasirangan Tanah Laut tampil sebagai simbol identitas budaya Indonesia yang adaptif, relevan, dan berdaya saing global. Inisiatif ini menjadi model strategis bagaimana budaya lokal dapat berkontribusi dalam diplomasi budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif di tingkat internasional.