Pencurian di Kuta Utara Bali – Wilayah Kecamatan Kuta Utara merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Kawasan ini di kenal memiliki berbagai fasilitas hiburan malam, akomodasi wisata. Serta pusat aktivitas pariwisata yang ramai, terutama pada malam hari. Namun, di balik geliat pariwisata tersebut, muncul tantangan serius dalam aspek keamanan, khususnya terkait tindak kriminal yang menyasar wisatawan asing.

Belakangan ini, aparat kepolisian setempat mengeluarkan imbauan kepada para wisatawan agar lebih berhati-hati selama beraktivitas, terutama pada malam hingga dini hari. Imbauan ini muncul sebagai respons terhadap maraknya kasus pencurian dengan modus penyamaran sebagai pengemudi ojek online (ojol) yang terjadi di kawasan tersebut.

Modus Operandi Kejahatan Berkedok Pengemudi Ojol

Kepala Kepolisian Sektor Polsek Kuta Utara, I Ketut Agus Pasek Sudina, menjelaskan bahwa pelaku kejahatan memanfaatkan kelengahan korban, khususnya wisatawan warga negara asing (WNA). Target utama adalah turis yang berada dalam kondisi tidak sadar penuh akibat konsumsi alkohol setelah mengunjungi tempat hiburan malam.

Para pelaku umumnya menggunakan atribut berupa jaket ojek online untuk menyamarkan identitas dan menimbulkan kesan seolah-olah mereka merupakan mitra resmi layanan transportasi daring. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelaku tidak terdaftar sebagai pengemudi resmi, bahkan tidak memiliki atau sengaja menonaktifkan aplikasi mitra ojol saat beraksi.

Pelaku biasanya menunggu di sekitar area hiburan malam dan membuntuti wisatawan yang berjalan kaki sendirian. Dengan berpura-pura menawarkan bantuan atau jasa antar, pelaku menunggu momen lengah sebelum merampas barang berharga seperti ponsel, dompet, atau tas milik korban. Fakta ini di perkuat oleh rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menunjukkan pola serupa dalam berbagai kejadian.

Dampak terhadap Wisatawan Asing

Kasus pencurian dengan modus tersebut menimbulkan rasa tidak aman bagi wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali. Sejak awal tahun 2026, sejumlah WNA telah melaporkan kejadian pencurian kepada pihak kepolisian setempat. Kondisi ini berpotensi mencoreng citra pariwisata Bali sebagai destinasi wisata internasional yang aman dan nyaman.

Wisatawan asing yang tidak familiar dengan lingkungan sekitar serta perbedaan budaya di nilai lebih rentan menjadi korban. Terlebih lagi, situasi malam hari dengan tingkat kesadaran yang menurun semakin meningkatkan risiko terjadinya tindak kriminal.

Pencurian di Kuta Utara Bali

Kapolsek Kuta Utara, AKP I Ketut Agus Pasek Sudina, di Polres Badung.

Upaya Pencegahan dan Penegakan Hukum

Menanggapi kondisi tersebut, aparat kepolisian di wilayah Kabupaten Badung melakukan berbagai langkah preventif dan represif. Sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026, belasan pelaku pencurian berhasil di amankan, baik laki-laki maupun perempuan. Penangkapan ini menjadi bagian dari upaya menekan angka kriminalitas yang menyasar wisatawan.

Selain penindakan hukum, kepolisian juga meningkatkan patroli rutin di kawasan rawan kejahatan, khususnya di sekitar tempat hiburan malam. Koordinasi dengan aparat desa adat turut di lakukan guna memeriksa identitas para pengemudi ojol yang mangkal di wilayah Kuta Utara. Langkah ini bertujuan memastikan bahwa hanya pengemudi resmi yang beroperasi di area tersebut.

Pihak kepolisian berharap kehadiran aparat secara intensif dapat memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan sekaligus meningkatkan rasa aman bagi masyarakat dan wisatawan.

Imbauan bagi Wisatawan dan Masyarakat

Sebagai langkah antisipatif, wisatawan di imbau untuk selalu menjaga barang pribadi, menghindari berjalan sendirian dalam kondisi tidak sadar penuh, serta menggunakan layanan transportasi resmi yang di pesan melalui aplikasi. Masyarakat setempat juga di harapkan berperan aktif dalam melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.

Dengan kerja sama antara aparat keamanan, masyarakat, dan wisatawan, stabilitas keamanan di kawasan pariwisata di harapkan dapat terjaga. Upaya kolektif ini menjadi kunci penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pariwisata Bali yang aman dan berdaya saing tinggi.