Daging Wagyu, asal Jepang, terkenal sebagai salah satu jenis daging sapi premium dengan kualitas tinggi. Karakteristik utama wagyu adalah teksturnya yang lembut dan sebaran lemak intramuskular atau marbling yang teratur, sehingga memberikan sensasi meleleh di mulut saat di konsumsi. Fenomena ini menjadikan wagyu sangat populer di kalangan pecinta kuliner. Namun, harga yang relatif tinggi membuatnya tidak selalu terjangkau oleh semua kalangan, mendorong munculnya alternatif yang lebih ekonomis.
Konsep Meltique Beef
Meltique beef merupakan produk daging sapi yang meniru tampilan dan tekstur wagyu namun dengan harga yang lebih rendah. Menurut Chef Yuda Bustara, meltique beef di buat dari daging sapi lokal yang di suntik dengan lemak nabati, seperti minyak kanola, untuk meniru pola marbling alami yang menjadi ciri khas wagyu. Produk ini sering di pasarkan sebagai “wagyu murah”, namun sebenarnya berbeda secara fundamental dengan wagyu asli.
“Banyak yang menjual wagyu seharga Rp100 ribu. Wagyu apa Rp100 ribu? Itu sebenarnya daging meltique, daging lokal yang di suntik minyak,” jelas Chef Yuda.
Perbedaan Visual dan Tekstur
Salah satu indikator mudah untuk membedakan wagyu asli dari meltique beef adalah pola marbling. Wagyu asli memiliki marbling yang rapi dan membentuk garis-garis alami di dalam daging, sementara meltique beef cenderung memiliki pola marbling yang tidak beraturan. Dominasi lemak pada meltique beef membuat daging tampak lebih putih dan teksturnya cenderung lebih berat.
Selain perbedaan visual, rasa juga menjadi penentu. Lemak alami pada wagyu memberikan rasa yang ringan dan nikmat. Sebaliknya, meltique beef memiliki rasa gurih yang lebih kuat sehingga mudah menimbulkan rasa enek bila di konsumsi dalam jumlah sedikit. Hal ini di sebabkan oleh lemak tambahan yang menyelimuti daging secara tidak alami.
“Kalau meltique, makan sedikit saja sudah enek. Lemaknya terlalu rich. Kalau wagyu asli, lemaknya natural dari sapi, rasanya lebih ringan dan enak di makan,” tambah Chef Yuda.
Ilustrasi Daging Wagyu.
Pertimbangan Kehalalan
Bagi konsumen Muslim, kehalalan produk menjadi pertimbangan utama. Meltique beef memiliki beberapa aspek kritis terkait halal:
-
Sumber Daging – Daging harus berasal dari sapi yang di sembelih sesuai syariat Islam, di lakukan oleh Muslim, dengan pengucapan basmalah, dan memastikan darah keluar sepenuhnya.
-
Jenis Lemak – Lemak atau minyak tambahan yang di suntikkan harus berasal dari sumber halal, seperti minyak nabati atau lemak sapi halal. Lemak babi jelas dilarang.
-
Bahan Tambahan – Pengemulsi, pewarna, penstabil, atau pengawet harus halal dan bebas dari alkohol atau bahan haram.
-
Proses Produksi – Peralatan dan area produksi harus bersih, bebas kontaminasi silang dengan bahan non-halal, serta memenuhi standar kebersihan halal.
Keamanan Pangan dan Konsumsi
Dari perspektif keamanan pangan, meltique beef termasuk aman untuk di konsumsi. Lemak yang di gunakan, misalnya minyak kanola, tergolong bahan pangan aman bila di gunakan sesuai aturan. Proses produksi meltique beef juga di awasi oleh badan pengawas pangan untuk memastikan keamanan bahan dan prosedur. Tujuan utama dari proses ini adalah meningkatkan penampilan dan tekstur daging agar lebih menarik dan empuk, tanpa mengubah kandungan nutrisi secara signifikan atau menambahkan bahan berbahaya.
Kendati demikian, konsumsi lemak intramuskular tambahan sebaiknya di lakukan secara moderat. Kelebihan konsumsi lemak, termasuk pada meltique beef, dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan masalah kesehatan jantung. Oleh karena itu, pengaturan porsi konsumsi menjadi penting dalam pola makan seimbang.
Kesimpulan
Pemahaman mengenai perbedaan antara wagyu asli dan meltique beef penting bagi konsumen untuk membuat keputusan yang tepat berdasarkan selera, kebutuhan, dan pertimbangan kesehatan. Wagyu asli tetap menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang mengutamakan kualitas dan rasa, sedangkan meltique beef dapat menjadi alternatif ekonomis dengan syarat memperhatikan aspek keamanan, kehalalan, dan konsumsi moderat. Pemilihan daging sapi berkualitas tinggi dengan kandungan lemak tak jenuh yang lebih tinggi tetap dianjurkan untuk mendapatkan manfaat optimal bagi kesehatan.
