Mudik Mobil Listrik – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan tren positif. Namun belum sepenuhnya di ikuti dengan tingkat kepercayaan masyarakat untuk menggunakannya dalam perjalanan jarak jauh seperti mudik. Berdasarkan survei yang di lakukan oleh kumparan pada periode 10 hingga 20 Maret 2026, sebagian besar responden masih menunjukkan keraguan terhadap penggunaan mobil listrik untuk perjalanan mudik.

Dari total 427 responden yang merupakan pemilik mobil listrik, sebanyak 51,29 persen atau setara dengan 219 orang mengaku masih ragu untuk menggunakan kendaraan listrik saat mudik. Faktor utama yang menjadi penyebab adalah waktu pengisian daya yang di anggap cukup lama, serta potensi antrean di stasiun pengisian ketika fasilitas dalam kondisi penuh.

Alasan Keraguan: Infrastruktur dan Waktu Pengisian

Kekhawatiran terhadap durasi pengisian daya menjadi salah satu hambatan terbesar dalam adopsi mobil listrik untuk perjalanan jarak jauh. Berbeda dengan kendaraan berbahan bakar konvensional yang dapat di isi dalam hitungan menit, mobil listrik membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kapasitas baterai optimal.

Selain itu, meskipun jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus bertambah, masih ada kekhawatiran terkait ketersediaan dan antrean, terutama pada periode puncak seperti arus mudik. Hal ini membuat sebagian pengguna merasa perlu mempertimbangkan kembali penggunaan mobil listrik dalam perjalanan panjang.

Sebagian Pengguna Mulai Percaya dengan SPKLU

Di sisi lain, terdapat juga kelompok pengguna yang mulai menunjukkan kepercayaan terhadap kesiapan infrastruktur kendaraan listrik. Sebanyak 19,2 persen atau 82 responden menyatakan tetap memilih menggunakan mobil listrik untuk mudik. Mereka beralasan bahwa SPKLU kini sudah semakin banyak dan tersebar di berbagai jalur utama, sehingga memudahkan pengisian daya selama perjalanan.

Namun demikian, masih ada 18,5 persen atau 79 responden yang secara tegas menyatakan tidak berminat menggunakan mobil listrik untuk mudik. Sementara itu, 11,01 persen atau 47 responden memilih menggunakan mobil listrik dengan strategi khusus. Yakni melakukan perencanaan lokasi pengisian daya sebelum memulai perjalanan.

Mudik Mobil Listrik

SPKLU di Rest Area KM 166 Tol Cipali.

Strategi PLN Menghadapi Lonjakan Penggunaan Kendaraan Listrik

Untuk mengantisipasi peningkatan penggunaan mobil listrik saat musim mudik, PT PLN (Persero) telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satu upaya yang di lakukan adalah pemetaan titik-titik pengisian daya di sepanjang jalur mudik, sehingga pengguna dapat dengan mudah menemukan fasilitas pengisian.

Selain itu, PLN juga menambah layanan mobile charging di lokasi-lokasi yang di prediksi mengalami kepadatan tinggi. Langkah ini di harapkan mampu mengurangi antrean serta memberikan solusi bagi pengguna yang kehabisan daya di tengah perjalanan.

Lonjakan Signifikan Penggunaan SPKLU

Kesiapan PLN tersebut di dasarkan pada data peningkatan penggunaan kendaraan listrik pada periode libur sebelumnya, yakni Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Dalam periode 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Terjadi lonjakan konsumsi energi listrik di SPKLU hingga 479 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total energi listrik yang digunakan untuk pengisian kendaraan listrik mencapai 5.619 MWh, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 1.174 MWh. Tidak hanya dari sisi konsumsi energi, frekuensi pengisian daya juga mengalami peningkatan signifikan. Tercatat sebanyak 234.136 aktivitas pengisian di lakukan, atau naik 485 persen di bandingkan sebelumnya yang hanya mencapai 48.254 kali.

Kesimpulan: Tantangan dan Peluang Kendaraan Listrik Saat Mudik

Data survei dan tren penggunaan menunjukkan bahwa mobil listrik memiliki potensi besar untuk digunakan dalam perjalanan mudik, namun masih menghadapi sejumlah tantangan. Infrastruktur yang terus berkembang menjadi faktor pendukung utama, tetapi kekhawatiran terkait waktu pengisian dan antrean masih menjadi penghambat bagi sebagian pengguna.

Ke depan, peningkatan jumlah SPKLU, teknologi pengisian yang lebih cepat, serta edukasi kepada masyarakat akan menjadi kunci dalam mendorong adopsi kendaraan listrik secara lebih luas. Khususnya untuk perjalanan jarak jauh seperti mudik.