Di era modern saat ini, kehidupan keluarga menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Di tengah suasana ruang keluarga yang ramai, sering kali muncul kesunyian yang terasa ganjil ketika percakapan antarmanusia terganggu oleh suara notifikasi dari gawai. Bunyi pemberitahuan yang terus bermunculan tanpa henti seakan mengetuk perhatian setiap anggota keluarga dan mengalihkan fokus mereka dari dunia nyata. Kondisi ini menciptakan jarak emosional, meskipun secara fisik mereka berada dalam ruangan yang sama.

Pada sofa-sofa ruang keluarga, pemandangan anak-anak duduk dengan tubuh membungkuk sambil menatap layar bercahaya kini menjadi hal yang lazim. Layar digital telah berubah menjadi ruang baru bagi imajinasi, hiburan, bahkan interaksi sosial mereka. Anak-anak kerap lebih tertarik menjelajahi berbagai aplikasi media sosial dan gim daring daripada menghabiskan waktu berbincang dengan orangtua. Akibatnya, hubungan kekeluargaan yang seharusnya hangat perlahan terhalang oleh tembok digital yang tidak terlihat.

Perempuan, terutama para ibu rumah tangga, menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari fenomena ini. Sebagai pengelola utama dalam rumah tangga, mereka menyaksikan secara langsung bagaimana waktu kebersamaan keluarga mulai kehilangan kualitasnya. Seorang ibu mungkin masih dapat memanggil nama anaknya, tetapi sering kali yang mampu ia lihat hanyalah punggung sang anak yang tenggelam dalam dunia maya. Kedekatan yang terjalin melalui media digital akhirnya berubah menjadi kedekatan semu yang miskin sentuhan emosional.

Keresahan ini tidak hanya menyangkut perubahan perilaku anak, tetapi juga masa depan perkembangan mental mereka. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu pendidikan dan komunikasi, pada praktiknya justru kerap menjadi sumber gangguan baru. Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar digital berpotensi mengalami penurunan kemampuan sosial, gangguan kesehatan mata, hingga ketergantungan psikologis. Semua itu menjadi beban pikiran tersendiri bagi kaum perempuan yang memegang kendali dalam pengasuhan.

 

Pengaruh Media Sosial

Ilustrasi Anak Kecil Terpaku Layar.

 

Kebijakan Rating Usia sebagai Upaya Perlindungan Anak

Melihat semakin kompleksnya persoalan tersebut, kebijakan yang di rencanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memberlakukan pembatasan rating usia pada platform media sosial dan gim daring mendapat perhatian luas. Rencana ini di pandang sebagai langkah strategis untuk melindungi anak-anak dari paparan konten yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan mereka. Regulasi tersebut di harapkan mampu menjadi solusi konkret bagi orangtua dalam mengontrol aktivitas digital anak secara lebih efektif.

Bagi para ibu rumah tangga, kebijakan rating usia bukanlah sekadar aturan administratif. Mereka menilai langkah ini sebagai ikhtiar negara untuk membantu orangtua menyaring konten digital yang kian beragam dan sulit di kendalikan. Algoritma media sosial sering kali bekerja tanpa mempertimbangkan dampak psikologis pada anak. Oleh sebab itu, kehadiran regulasi di anggap penting agar akses terhadap dunia digital lebih terarah dan bertanggung jawab.

Salah satu ibu rumah tangga bernama Rohayati (45) merasakan betul perubahan besar dalam kehidupan sehari-harinya. Ia menganggap gawai telah menjadi unsur ketiga dalam hubungan antara ibu dan anak. Menurutnya, anak-anak saat ini sulit di ajak bercengkerama karena lebih memilih tenggelam dalam keseruan gim daring. Harapan Rohayati terhadap kebijakan rating usia sangat tinggi, sebab ia merasa aturan tersebut dapat menjadi pagar pelindung bagi anaknya dari polusi digital. Regulasi ini di yakini dapat membantu orangtua menentukan batas yang jelas sesuai usia dan kebutuhan anak.

Ketergantungan Gim Daring dan Media Sosial

Selain cerita dari Rohayati, keresahan serupa juga di alami oleh Siti (38), seorang ibu yang melihat perubahan drastis pada pola waktu dalam rumahnya. Ia menyaksikan bagaimana anak lelakinya mampu menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari hanya untuk menatap layar gawai. Aktivitas digital yang berlebihan membuat anak melupakan kebutuhan dasar seperti makan, beristirahat, dan menjaga kebersihan diri. Fenomena ini menjadi tantangan berat bagi Siti dalam mendidik kedisiplinan anak.

Bagi sebagian perempuan, media sosial dan gim daring telah berubah menjadi bentuk penjajahan baru yang menyerang perhatian anak-anak. Meskipun upaya pembatasan telah di lakukan di rumah, tantangan tetap muncul karena lingkungan digital tidak menyediakan filter yang memadai. Orangtua sering kali harus bersikap tegas bahkan marah demi menarik perhatian anak dari layar. Sistem penahanan gawai selama hari sekolah menjadi salah satu cara yang di tempuh untuk menekan ketergantungan tersebut.

Namun, langkah di siplin di tingkat keluarga sering kali terasa tidak cukup tanpa dukungan kebijakan yang lebih luas. Ketika anak membuka media sosial, ia dapat dengan mudah menemukan konten yang tidak mendidik atau tidak sesuai dengan usianya. Gim daring pun menawarkan petualangan tanpa batas waktu yang sulit di hentikan. Semua itu membuat upaya pengasuhan menjadi tidak sinkron dengan realitas digital yang ada.

Sinergi Negara dan Orangtua dalam Pengawasan Digital

Oleh karena itu, kebijakan pembatasan rating usia yang di rencanakan Komdigi memerlukan dukungan penuh dari berbagai pihak. Perempuan pemegang peran penting dalam keluarga berharap agar regulasi tersebut dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Negara di harapkan mampu berjalan seiring dengan orangtua dalam menyaring akses anak terhadap konten digital. Dengan adanya aturan yang jelas, pengawasan terhadap media sosial dan gim daring menjadi lebih terstruktur dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

Upaya perlindungan anak di dunia digital harus di lakukan secara kolektif agar hubungan keluarga dapat kembali menemukan kehangatannya. Tanpa langkah tegas dan sinergis, kesunyian ganjil di tengah ruang keluarga akan terus terjadi. Kebijakan rating usia pada media sosial dan gim daring menjadi salah satu harapan besar bagi perempuan Indonesia untuk menyelamatkan masa depan generasi muda dari ketergantungan digital yang berlebihan.