Museum Pusaka Karo tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer benda bersejarah. Tetapi juga menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap pelestarian warisan budaya lokal. Koleksi yang tersusun rapi di dalam museum ini menyimpan kisah panjang tentang kepercayaan, tanggung jawab. Serta komitmen warga dalam menjaga peninggalan leluhur agar tetap lestari dan dapat di wariskan kepada generasi mendatang. Sebagian besar koleksi museum berasal dari hibah dan titipan masyarakat yang ingin memastikan bahwa artefak budaya Karo tidak hilang di telan zaman.

Kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan Museum Pusaka Karo menjadi fondasi penting dalam keberlangsungan museum ini. Tanpa dukungan warga, baik dalam bentuk koleksi maupun perhatian moral, museum tidak akan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai pusat pelestarian budaya.

Kontribusi Benefactor dalam Pengembangan Koleksi Museum

Salah satu tokoh penting yang berperan besar dalam pengembangan koleksi Museum Pusaka Karo adalah Mehemoni br Tarigan Silangit, seorang warga Sukajulu. Informasi ini di sampaikan langsung oleh Kurator Museum Pusaka Karo, Kriswanto Ginting. Ia menjelaskan bahwa ratusan koleksi yang saat ini di pamerkan di museum merupakan titipan dari Mehemoni br Tarigan bersama suaminya, Wilhelmus Antonius van Herben, seorang warga negara Belanda.

Pasangan ini di kenal memiliki kecintaan yang mendalam terhadap budaya Karo. Sebelum koleksi tersebut di titipkan ke museum, mereka terlebih dahulu aktif melakukan restorasi rumah-rumah adat Karo yang di kumpulkan dari berbagai kampung. Rumah-rumah adat tersebut kemudian di tempatkan dan di rawat di Desa Sukajulu sebagai bagian dari upaya pelestarian arsitektur tradisional Karo.

Selain bangunan adat, pasangan ini juga mengoleksi berbagai benda otentik khas Karo. Mulai dari peralatan rumah tangga tradisional, perlengkapan upacara adat, hingga benda-benda simbolik yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi.

Museum Pusaka Karo

Koleksi di Museum Pusaka Karo.

Kerja Sama dalam Penitipan dan Perawatan Koleksi

Keseriusan dan dedikasi pasangan tersebut dalam menjaga budaya Karo menarik perhatian Pastor Leo Joosten Ginting. Dari sinilah terjalin kerja sama untuk menitipkan koleksi yang telah di kumpulkan ke Museum Pusaka Karo. Sejak tahun 2015 hingga saat ini, ratusan koleksi tersebut tetap berada di museum dan di rawat secara rutin oleh pihak pengelola.

Penitipan koleksi ini di dasari oleh keinginan agar benda-benda warisan leluhur dapat di jaga dengan lebih baik serta di akses oleh masyarakat luas. Museum di pandang sebagai tempat yang paling tepat untuk menyimpan dan memamerkan koleksi tersebut. Sehingga nilai edukasi dan budaya yang terkandung di dalamnya dapat di manfaatkan secara maksimal, terutama oleh generasi muda.

Metode Perawatan Koleksi yang Sederhana namun Berkelanjutan

Dengan luas bangunan sekitar 15 x 30 meter, Museum Pusaka Karo menjalankan perawatan koleksi secara berkala meskipun dengan keterbatasan fasilitas. Proses perawatan di lakukan dua kali dalam sebulan dengan menitikberatkan pada kegiatan pengontrolan dan pencegahan kerusakan.

Pengontrolan meliputi pemeriksaan ruang pamer dan vitrin penyimpanan, pembersihan debu. Pengaturan suhu ruangan, serta pengecekan kondisi lemari pamer. Sementara itu, langkah pencegahan di fokuskan pada deteksi dini terhadap potensi kerusakan. Seperti munculnya jamur akibat kelembapan tinggi dan serangan rayap pada koleksi berbahan kayu.

Apabila di temukan koleksi yang berisiko mengalami kerusakan, pengelola museum akan melakukan pemindahan sementara atau karantina. Langkah ini di nilai penting karena keterbatasan museum dalam melakukan konservasi menggunakan bahan kimia khusus. Oleh sebab itu, perawatan kuratif sederhana menjadi solusi paling realistis untuk menjaga keamanan koleksi.

Harapan dan Arah Pengembangan Museum Pusaka Karo

Ke depan, pengelola Museum Pusaka Karo berharap museum ini dapat berkembang menjadi lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Salah satu harapan utama adalah penerapan digitalisasi koleksi, sehingga kekayaan budaya Karo dapat di akses lebih luas dan terdokumentasi dengan baik.

Dengan pengembangan tersebut, museum di harapkan tidak hanya menjadi tujuan kunjungan edukatif bagi pelajar, tetapi juga mampu menjadi destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Dukungan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sangat di harapkan untuk menunjang keberlanjutan museum ini.

Perhatian dan bantuan, sekecil apa pun, di nilai sangat berarti dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Karo agar tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. Jika Anda ingin versi lebih akademik, siap submit jurnal, atau disesuaikan dengan template jurnal tertentu, silakan beri tahu.