Putusnya hubungan romantis merupakan peristiwa kehidupan yang berpotensi menimbulkan dampak psikologis signifikan bagi individu. Pengalaman ini tidak hanya memunculkan respons emosional berupa kesedihan dan perasaan kehilangan. Tetapi juga memengaruhi cara individu memandang, menilai, dan memaknai dirinya sendiri. Sejumlah individu yang mengalami putus hubungan melaporkan adanya penurunan kepercayaan diri, munculnya keraguan terhadap nilai personal. Serta kekhawatiran mengenai kemampuan menjalin hubungan romantis yang sehat di masa mendatang. Kondisi tersebut sering kali mendorong individu untuk melakukan berbagai upaya yang berorientasi pada peningkatan kepercayaan diri sebagai strategi adaptif pascaputus hubungan.

Namun demikian, asumsi bahwa kepercayaan diri mengalami penurunan secara langsung akibat putus hubungan perlu di telaah lebih lanjut secara kritis. Perspektif psikologis menunjukkan bahwa terdapat konstruk lain yang lebih dominan berperan dalam fenomena tersebut, yaitu meningkatnya rasa tidak aman (insecurity).

Konsep Kepercayaan Diri dalam Perspektif Psikologis

Dalam kajian psikologi, kepercayaan diri di pahami sebagai keyakinan individu terhadap kompetensi, nilai, dan kapasitas dirinya secara mendasar. Kepercayaan diri merupakan hasil dari proses perkembangan jangka panjang yang terbentuk sejak masa awal kehidupan dan cenderung bersifat relatif stabil sepanjang rentang kehidupan individu. Oleh karena itu, kepercayaan diri tidak mudah mengalami degradasi hanya karena satu peristiwa negatif, termasuk putusnya hubungan romantis.

Stabilitas kepercayaan diri sebagai modal psikologis menunjukkan bahwa persepsi individu mengenai “hilangnya kepercayaan diri”. Pascaputus hubungan tidak selalu mencerminkan perubahan struktural pada konsep diri yang bersifat mendasar. Sebaliknya, persepsi tersebut sering kali merupakan manifestasi dari faktor psikologis lain yang bersifat situasional dan dinamis.

Putus Hubungan

Ilustrasi Putus Hubungan.

Insecurity sebagai Faktor Dominan Pascaputus Hubungan

Rasa tidak aman atau insecurity merupakan kondisi psikologis yang di tandai oleh kegelisahan batin, perasaan tidak berharga. Serta kecenderungan membandingkan diri secara negatif dengan orang lain. Insecurity cenderung meningkat ketika individu menghadapi pengalaman interpersonal yang tidak menyenangkan. Khususnya dalam konteks hubungan romantis yang sarat dengan keterikatan emosional.

Pengalaman relasional yang melibatkan perlakuan negatif, seperti kritik yang merendahkan, pengabaian emosional, atau kekerasan verbal dan psikologis, dapat berkontribusi pada terbentuknya keyakinan internal yang di sfungsional. Keyakinan tersebut antara lain berupa anggapan bahwa diri tidak cukup baik, tidak layak di cintai, atau pantas menerima perlakuan buruk. Akumulasi pengalaman semacam ini secara bertahap meningkatkan tingkat insecurity individu.

Dengan demikian, perasaan rendah diri yang muncul setelah putus hubungan lebih tepat di pahami sebagai hasil dari meningkatnya insecurity yang menutupi kepercayaan diri yang secara struktural tetap ada, bukan sebagai indikasi menurunnya kepercayaan diri itu sendiri.

Pengalaman Relasional dan Internalisasi Nilai Negatif

Hubungan romantis merupakan arena interaksi yang intens dan berpotensi membentuk skema kognitif individu mengenai diri dan relasi interpersonal. Paparan berulang terhadap pengalaman relasional negatif dapat menyebabkan internalisasi nilai-nilai negatif ke dalam konsep diri individu. Proses internalisasi ini membuat individu mengadopsi pandangan yang tidak adaptif mengenai dirinya, sehingga memperkuat rasa tidak aman.

Ketika hubungan berakhir, nilai-nilai negatif yang telah terinternalisasi tersebut tetap bertahan dan memengaruhi cara individu mengevaluasi diri. Hal inilah yang sering di salahartikan sebagai penurunan kepercayaan diri, padahal yang terjadi adalah dominasi insecurity dalam proses penilaian diri pascaputus hubungan.

Reorientasi Pendekatan dalam Proses Pemulihan Psikologis

Pemahaman bahwa kepercayaan diri bersifat relatif stabil membawa implikasi penting dalam upaya pemulihan psikologis pascaputus hubungan. Pendekatan yang berfokus pada peningkatan kepercayaan diri menjadi kurang relevan apabila akar permasalahan terletak pada meningkatnya insecurity. Oleh karena itu, strategi intervensi yang lebih tepat adalah menurunkan tingkat insecurity melalui peningkatan kesadaran diri dan restrukturisasi kognitif.

Pemberian informasi dan pemahaman psikologis yang akurat memungkinkan individu untuk membedakan antara evaluasi diri yang objektif dan pikiran negatif yang terbentuk akibat pengalaman relasional yang tidak sehat. Selain itu, refleksi terhadap dinamika hubungan sebelumnya membantu individu memisahkan nilai diri yang inheren dari perlakuan negatif yang bersifat situasional.

Implikasi terhadap Kesiapan Relasional di Masa Mendatang

Penurunan insecurity berkontribusi pada pemulihan keseimbangan psikologis individu secara lebih adaptif. Ketika rasa tidak aman berkurang, kepercayaan diri yang sebelumnya tertutupi dapat kembali berfungsi secara optimal. Kondisi ini memungkinkan individu untuk membangun relasi interpersonal baru dengan perspektif yang lebih realistis, tanpa di bayangi oleh ketakutan berlebihan atau penilaian diri yang negatif.

Dengan demikian, putusnya hubungan romantis tidak semestinya di pandang sebagai kegagalan personal, melainkan sebagai pengalaman perkembangan yang dapat memperkaya pemahaman individu mengenai diri dan relasi. Pemaknaan yang adaptif terhadap pengalaman tersebut berpotensi meningkatkan kematangan emosional serta kesiapan individu dalam menjalin hubungan yang lebih sehat di masa depan.