Manchester United kembali harus menelan kekecewaan setelah langkah mereka di ajang Piala FA musim 2025–2026 terhenti lebih awal. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Old Trafford, Setan Merah takluk dengan skor 1-2 dari Brighton & Hove Albion pada laga babak ketiga yang di gelar Minggu (11/1/2026). Kekalahan ini semakin menegaskan bahwa Manchester United masih berada dalam fase sulit, terutama di tengah masa transisi kepelatihan yang belum sepenuhnya stabil.
Sejak awal pertandingan, tim tamu tampil tanpa beban dan mampu memanfaatkan celah di lini pertahanan tuan rumah. Tekanan Brighton membuahkan hasil ketika Brajan Gruda mencetak gol pembuka pada menit ke-12. Gol cepat tersebut membuat Manchester United harus mengubah rencana permainan dan mencoba mengambil alih kendali laga lebih awal dari yang di rencanakan.
Brighton Tampil Efektif dan Disiplin
Setelah unggul lebih dulu, Brighton menunjukkan kedewasaan bermain dengan menjaga organisasi pertahanan serta menunggu momen yang tepat untuk melakukan serangan balik. Manchester United memang lebih dominan dalam penguasaan bola, namun kesulitan menembus rapatnya lini belakang tim tamu.
Situasi semakin berat bagi tuan rumah ketika Danny Welbeck, mantan pemain Manchester United, mencetak gol kedua bagi Brighton pada menit ke-64. Gol tersebut terasa menyakitkan bagi publik Old Trafford karena lahir dari pemain yang pernah menjadi bagian dari klub. Keunggulan dua gol membuat Brighton semakin percaya diri, sementara Manchester United mulai terlihat frustrasi dalam membangun serangan.
Harapan Sempat Muncul di Menit Akhir
Meski tertinggal dua gol, Manchester United tidak sepenuhnya menyerah. Tekanan intensif akhirnya membuahkan hasil ketika Benjamin Sesko berhasil memperkecil ketertinggalan pada menit ke-85. Gol tersebut sempat membangkitkan optimisme bahwa tuan rumah masih memiliki peluang untuk memaksakan pertandingan berlanjut.
Namun, momentum kebangkitan itu tidak bertahan lama. Hanya berselang beberapa menit, Shea Lacey harus meninggalkan lapangan lebih awal setelah menerima kartu merah pada menit ke-89. Kehilangan satu pemain di menit-menit krusial membuat upaya Manchester United untuk menyamakan kedudukan menjadi semakin sulit, hingga akhirnya peluit panjang berbunyi dengan skor tetap 1-2 untuk kemenangan Brighton.

Manchester United tersingkir dari Piala FA usai kalah dari Brighton di Old Trafford.
Reaksi Suporter di Old Trafford
Kekalahan tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pendukung Manchester United. Peluit akhir di sambut dengan sorakan kekecewaan yang menggema dari tribun Old Trafford sebelum suasana stadion perlahan menjadi hening. Hasil ini terasa pahit karena Manchester United kini tersingkir dari seluruh kompetisi piala dan hanya menyisakan Liga Inggris sebagai fokus utama musim ini.
Situasi ini menunjukkan bahwa ekspektasi suporter terhadap klub masih sangat tinggi, terutama mengingat status Manchester United sebagai salah satu tim besar di Inggris. Tekanan publik pun semakin terasa di tengah performa tim yang belum konsisten.
Fletcher Memahami Kekecewaan Publik
Pelatih interim Manchester United, Darren Fletcher, mengaku memahami sepenuhnya reaksi para suporter. Menurutnya, kekecewaan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat hasil yang di raih tim. Ia menegaskan bahwa ekspresi ketidakpuasan suporter tidak berubah menjadi situasi yang tidak terkendali.
Fletcher menilai bahwa para pendukung hanya ingin melihat komitmen dan respons yang tepat dari para pemain di lapangan. Ia juga optimistis bahwa dukungan publik Old Trafford dapat kembali sepenuhnya apabila tim mampu menunjukkan peningkatan performa dalam pertandingan-pertandingan berikutnya.
Fokus Penuh ke Liga Inggris
Dengan tersingkirnya Manchester United dari seluruh ajang piala domestik, perhatian kini sepenuhnya tertuju pada Liga Inggris. Fletcher menegaskan bahwa musim belum berakhir dan masih banyak hal yang bisa di perjuangkan. Ia berharap para pemain mampu menjadikan kekalahan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki performa dan konsistensi tim.
Ke depan, Manchester United dituntut untuk segera bangkit dan menunjukkan reaksi positif agar kepercayaan suporter kembali pulih. Liga Inggris menjadi satu-satunya panggung tersisa bagi Setan Merah untuk menyelamatkan musim dan membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing di level tertinggi.