Karier Endrick bersama Real Madrid mengalami fase yang tidak mudah ketika klub tersebut berada di bawah arahan Xabi Alonso. Minimnya menit bermain membuat banyak pihak berspekulasi mengenai masa depan pemain muda asal Brasil tersebut. Namun, berbeda dari anggapan umum, Endrick justru memandang periode ini sebagai salah satu fase paling berharga dalam hidupnya, bukan sebagai masa kekecewaan.
Sejak Xabi Alonso mengambil alih kursi pelatih, Endrick hanya mencatatkan tiga penampilan bersama tim utama. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit di bandingkan periode sebelumnya ketika Real Madrid masih di latih oleh Carlo Ancelotti, di mana Endrick tampil dalam 37 pertandingan di berbagai kompetisi. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya terpuruk secara mental maupun profesional.
Minim Menit Bermain Justru Membentuk Kedewasaan Endrick
Alih-alih merasa frustrasi, Endrick mengungkapkan bahwa enam bulan terakhir justru menjadi masa terbaik dalam kehidupannya. Ia mendapatkan waktu yang lebih luas untuk fokus pada aspek personal, termasuk kehidupan keluarga dan pengembangan diri di luar lapangan hijau. Menurutnya, keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi adalah fondasi penting untuk menjadi pesepak bola profesional yang matang.
Endrick menilai bahwa kesempatan untuk membangun rumah tangga dan menghabiskan waktu bersama istri memberinya perspektif baru tentang arti kesuksesan. Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan keluarga dan stabilitas kehidupan pribadi, pencapaian di dunia sepak bola tidak akan berarti banyak. Fase ini membuatnya merasa lebih dewasa, lebih fokus, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya dalam karier profesional.

Endrick.
Kepindahan ke Lyon sebagai Langkah Strategis Karier
Pada akhir Desember 2025, Endrick resmi bergabung dengan Olympique Lyonnais dengan status pinjaman dari Real Madrid. Klub asal Prancis tersebut menebus kesepakatan peminjaman dengan biaya sekitar satu juta euro. Kepindahan ini bukan sekadar solusi sementara, melainkan bagian dari strategi jangka menengah untuk mendapatkan menit bermain yang lebih konsisten.
Lyon di nilai sebagai lingkungan yang tepat bagi Endrick untuk mengasah kemampuan teknis, meningkatkan jam terbang, serta kembali menemukan ritme permainan terbaiknya. Kompetisi Ligue 1 yang menuntut fisik dan kecepatan di harapkan dapat membantu Endrick berkembang secara signifikan sebelum kembali ke panggung yang lebih besar.
Target Piala Dunia 2026 Bersama Timnas Brasil
Keputusan Endrick untuk meninggalkan Madrid sementara waktu juga berkaitan erat dengan ambisinya bersama Timnas Brasil. Ia menargetkan bisa menjadi bagian dari skuad Brasil di Piala Dunia 2026. Untuk mencapai tujuan tersebut, konsistensi bermain di level klub menjadi faktor yang tidak bisa di tawar.
Peran Carlo Ancelotti, yang kini juga menangani Timnas Brasil, turut memengaruhi keputusan ini. Ancelotti memahami betul potensi Endrick dan menyadari bahwa pemain muda membutuhkan menit bermain reguler untuk berkembang secara optimal. Oleh karena itu, kepindahan ke Lyon di pandang sebagai langkah realistis dan strategis demi menjaga peluang tampil di ajang sepak bola terbesar dunia.
Refleksi Spiritual dan Mental Seorang Pemain Muda
Selain aspek teknis dan taktis, Endrick juga menekankan pentingnya refleksi spiritual dalam perjalanan hidupnya. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan orang-orang yang telah mendukungnya selama ini. Baginya, fase sulit bukanlah hambatan, melainkan proses pembentukan karakter.
Endrick menegaskan bahwa saat ini dirinya berada dalam kondisi mental yang jauh lebih baik. Fokusnya kini tertuju pada pekerjaan sebagai pesepak bola profesional, dengan bekal kedewasaan dan perspektif baru yang di peroleh dari pengalaman sebelumnya.
Kesimpulan
Perjalanan Endrick bersama Real Madrid di bawah asuhan Xabi Alonso memang tidak berjalan sesuai ekspektasi dari segi menit bermain. Namun, alih-alih terpuruk, pemain muda Brasil tersebut justru memanfaatkan situasi untuk berkembang secara pribadi dan mental. Kepindahannya ke Lyon menjadi langkah strategis untuk mengejar konsistensi, sekaligus membuka peluang tampil di Piala Dunia 2026 bersama Timnas Brasil. Kisah ini menunjukkan bahwa dalam dunia sepak bola, perkembangan seorang pemain tidak selalu di ukur dari jumlah pertandingan, melainkan dari kematangan sikap dan visi jangka panjang.